Industri pariwisata pascapandemi diwarnai oleh tegangan antara aturan visual korporat dan representasi alam yang dinamis. Penelitian ini mengevaluasi dinamika komodifikasi dalam penerapan identitas visual Watashi Travel pada media promosi fisik dan digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan strategi studi kasus tunggal, data penelitian dibatasi pada korpus visual yang meliputi dokumen Graphic Standard Manual (GSM), foto dokumentasi promosi fisik dalam Company Profile, serta observasi digital terhadap sembilan unggahan statis pada feed Instagram @watashitravel. Data visual dianalisis melalui integrasi kerangka semiotika Barthes dan analisis data visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pedoman visual tidak hanya berfungsi sebagai keberhasilan manajerial atau estetis, tetapi juga dapat dibaca sebagai praktik komodifikasi visual. Logogram dan skema warna analogus biru-hijau secara semiotik mereduksi karakteristik alam menjadi komoditas visual yang aman, terukur, dan tepercaya (trustworthy). Pada media fisik bereksposur tinggi, penempatan logo merepresentasikan upaya simbolik untuk menata ulang citra alam dalam bingkai korporasi. Sementara itu, konsistensi tata letak pada platform digital membentuk “realitas yang dikurasi” (curated reality), yaitu representasi pariwisata yang lebih seragam, teratur, dan mudah dikonsumsi secara visual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan GSM secara konsisten berfungsi sebagai instrumen strategis untuk mengarahkan narasi pariwisata dan menstandardisasi pengalaman wisata menjadi produk konsumsi visual yang kredibel.