Banjir merupakan salah satu ancaman hidrometeorologi yang dominan di Kabupaten Sekadau dan berkaitan erat dengan dinamika hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara spasial tingkat eksposur wilayah terhadap bahaya banjir sebagai landasan dalam penyusunan upaya mitigasi yang lebih terarah dan terukur. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui perangkat lunak QGIS. Analisis dilakukan dengan teknik overlay intersect antara peta zona bahaya banjir dari platform InaRISK BNPB dan peta batas administratif kecamatan di Kabupaten Sekadau. Hasilnya menunjukkan bahwa total area yang terpapar banjir mencapai 563.844,48 hektar dengan distribusi yang tidak merata di tujuh kecamatan. Temuan ini menegaskan adanya perbedaan konseptual antara eksposur fisik dan risiko sosial. Secara spasial, Kecamatan Nanga Taman dan Belitang Hulu memiliki eksposur fisik terbesar, masing-masing seluas 127.349,00 Ha (22,58%) dan 115.213,55 Ha (20,43%), yang dipengaruhi oleh kondisi morfologi wilayah berupa zona cekungan hidrologis yang memicu efek penyempitan aliran (bottleneck effect). Di sisi lain, Kecamatan Sekadau Hilir justru menunjukkan tingkat risiko sosial tertinggi dengan jumlah penduduk terdampak mencapai 72.204 jiwa, meskipun luas wilayah terdampaknya berada pada kategori sedang. Kondisi ini dipengaruhi oleh pola permukiman memanjang (ribbon development) di sepanjang bantaran sungai yang meningkatkan kerentanan penduduk. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa besarnya luas paparan secara fisik tidak selalu sejalan dengan tingkat kerentanan sosial. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang mengintegrasikan zonasi risiko secara komprehensif, guna mendukung perumusan strategi adaptasi bencana yang lebih responsif terhadap dinamika hidrologi DAS Kapuas dan pola aktivitas masyarakat.