Muhammad Ilham
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SIKLUS PERADABAN NUSANTARA: ANALISIS HISTORIS-FILOSOFIS TEORI OSWALD SPENGLER TERHADAP DINAMIKA SEJARAH INDONESIA Lutfi Naufal Ihsan; Muhammad Danial Haikal; Muhammad Ilham
JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 8 No. 1 (2026): JAMBE: Jurnal Sejarah Peradaban Islam
Publisher : Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jambe.v8i1.204

Abstract

Lintasan sejarah Indonesia mengungkapkan pola dinamika peradaban yang kompleks, dari zaman keemasan kerajaan kepulauan hingga era kolonialisme dan kemerdekaan. Filsafat sejarah Oswald Spengler, khususnya teori siklus peradabannya, menawarkan kerangka teoretis untuk memahami kebangkitan dan kemunduran peradaban-peradaban ini. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan dan keruntuhan peradaban Indonesia menggunakan teori siklus Spengler dan mengevaluasi relevansi teori ini dalam konteks sejarah Nusantara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis-filosofis, menganalisis karya-karya utama Spengler bersama dengan sumber-sumber sejarah Indonesia untuk mengidentifikasi pola-pola siklus peradaban. Sejarah Indonesia mencerminkan empat fase siklus Spengler: musim semi (kedatangan pengaruh Hindu-Buddha, abad ke-1–5 M), musim panas (pembentukan kerajaan, abad ke-4–7 M), musim gugur (puncak kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, abad ke-7–15 M), dan musim dingin (kolonialisme, abad ke-16–20 M). Setelah kemerdekaan, Indonesia memasuki siklus baru pada fase musim semi (abad ke-20) dan saat ini berada pada fase musim panas (abad ke-21). Hasil penelitian ini adalah Indonesia mengalami kelahiran, perkembangan, kejayaan, dan keruntuhan selama kurang lebih 1500 tahun. Teori Spengler terbukti relevan untuk menganalisis dinamika sejarah Indonesia, meskipun memerlukan modifikasi untuk mengakomodasi konteks lokal, seperti pengaruh Islam dan ketahanan budaya Nusantara.