Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pengembangan model pembelajaran seni yang inklusif bagi peserta didik tunarungu, khususnya dalam pembelajaran dasar tari Bali. Meskipun kebijakan pendidikan inklusif di Indonesia telah berkembang, implementasinya masih menghadapi tantangan, terutama terkait keterbatasan media pembelajaran yang adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pembelajaran dasar tari Bali berbasis pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dengan memanfaatkan buku Seni Tari Bali dalam Alunan Sunyi sebagai media utama pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi transendental Edmund Husserl. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk menggali proses pembelajaran, pengalaman, serta makna yang dirasakan oleh peserta didik tunarungu dan guru selama pembelajaran berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis STEAM dengan dukungan media visual mampu meningkatkan keterlibatan, kemandirian, serta kreativitas peserta didik tunarungu dalam proses pembelajaran tari. Pembelajaran menjadi lebih terstruktur, interaktif, dan kontekstual, serta mampu mengakomodasi keterbatasan akses auditori melalui pendekatan visual dan kinestetik. Selain itu, integrasi nilai-nilai kearifan lokal Bali memperkuat pemahaman peserta didik terhadap makna gerak tari, tidak hanya secara teknis tetapi juga secara budaya. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan model pembelajaran seni berbasis STEAM yang inklusif dan berbasis kearifan lokal Bali, serta dapat menjadi referensi dalam pengembangan pembelajaran seni bagi peserta didik berkebutuhan khusus.