Fenomena Urban Heat Island (UHI) menjadi persoalan lingkungan yang semakin kritis seiring meningkatnya tekanan urbanisasi di kawasan perkotaan dan periurban Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika spasio-temporal NDVI, NDWI, NDBI, Land Surface Temperature (LST), dan distribusi UHI di wilayah barat Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada periode 2017, 2021, dan 2025. Data yang digunakan berupa citra Landsat-8 OLI/TIRS Collection 2 Level-1 yang diolah menggunakan Google Earth Engine dan Python, serta data tutupan lahan ESRI Land Cover. LST dihitung menggunakan pendekatan proporsi vegetasi berbasis NDVI untuk estimasi emisivitas dan inversi Planck, sedangkan UHI diidentifikasi berdasarkan selisih LST terhadap nilai rata-rata dan standar deviasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LST maksimum meningkat dari 35,93°C pada 2017 menjadi 43,97°C pada 2025, disertai penurunan area Non-UHI dari 28.065,31 Ha menjadi 24.755,75 Ha. Analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa NDBI memiliki korelasi positif sedang hingga kuat terhadap LST (r = +0,525 hingga +0,725), sedangkan NDWI menunjukkan korelasi negatif lemah hingga sedang (r = −0,281 hingga −0,459). Sementara itu, NDVI memiliki korelasi positif yang lemah terhadap LST (r = +0,144 hingga +0,304), yang diduga dipengaruhi oleh dominasi lahan pertanian di wilayah penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa ekspansi kawasan terbangun merupakan faktor yang paling dominan dalam meningkatkan suhu permukaan, sedangkan keberadaan badan air berperan dalam menekan peningkatan LST sehingga keduanya menjadi komponen penting dalam mitigasi fenomena UHI di wilayah barat Kabupaten Maros.