Pariwisata interaksi satwa liar di kawasan pesisir semakin berkembang sebagai instrumen ekonomi lokal sekaligus sarana konservasi laut yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 14 Life Below Water. Perairan Botubarani, Gorontalo, yang dikenal sebagai habitat kemunculan Paus Sherly, menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pemanfaatan wisata dan perlindungan ekosistem laut. Meskipun berbagai kajian telah membahas wisata bahari dan konservasi satwa laut, penelitian yang secara khusus mengevaluasi implementasi prinsip Life Below Water dalam konservasi warisan alam berbasis pariwisata di Botubarani masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana implementasi pariwisata berkelanjutan berbasis SDG 14 diterapkan dalam konservasi warisan alam Paus Sherly di Perairan Botubarani. Studi ini menyoroti isu utama terkait meningkatnya aktivitas wisata interaksi satwa liar yang berpotensi menimbulkan tekanan ekologis terhadap habitat laut yang sensitif. Ketegangan antara pemanfaatan pariwisata sebagai penggerak ekonomi lokal dan kebutuhan perlindungan ekosistem laut menjadi fokus permasalahan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif eksploratif karena mampu memberikan pemahaman mendalam terhadap fenomena pengelolaan wisata dan konservasi. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan pemangku kepentingan, khususnya Dinas Provinsi terkait di Bone Bolango, serta didukung oleh observasi lapangan dan dokumentasi. Analisis dilakukan berdasarkan empat indikator utama dimensi konservasi warisan alam: (a) perlindungan lingkungan sensitif, (b) pengelolaan pengunjung pada situs alam, (c) interaksi manusia dengan kehidupan liar, serta (d) eksploitasi spesies dan kesejahteraan satwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya konservasi telah diterapkan melalui pembatasan ruang aktivitas wisata dan peningkatan kesadaran pengunjung, namun pengelolaan pengunjung, standar interaksi satwa, serta monitoring ekologis masih belum optimal. Keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan data yang didominasi oleh perspektif pemangku kepentingan pengelola serta belum terintegrasinya data ekologis kuantitatif mengenai kondisi populasi dan respons perilaku paus hiu terhadap aktivitas wisata. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan mengombinasikan pendekatan sosial dan ekologis melalui pemantauan jangka panjang untuk menghasilkan evaluasi yang lebih komprehensif terhadap keberlanjutan destinasi wisata konservasi.