Rafika Rahmi A wwaliah
Program Studi Sarjana Kebidanan, Fakultas Kesehatan, Universitas Sari Mulia, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERAWATAN METODE KANGURU DAN MURROTAL AL-QUR’AN TERHADAP BERAT BADAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) Hairiana Kusvitasari; Rafika Rahmi A wwaliah; Fitri Yuliana
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 2 (2026): April-Juni, Health Promotion
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/2wymt049

Abstract

Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu permasalahan utama pada masa neonatus yang berisiko meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Perawatan metode kanguru (PMK) dan terapi murrotal Al-Qur’an merupakan intervensi nonfarmakologis yang berpotensi mendukung peningkatan berat badan melalui mekanisme stabilisasi suhu tubuh, peningkatan kenyamanan, serta konservasi energi bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi perawatan metode kanguru dan murrotal Al-Qur’an terhadap peningkatan berat badan bayi BBLR di Ruang Perinatologi RSUD Panglima Sebaya Tanah Grogot. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel penelitian terdiri atas 15 bayi BBLR yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa PMK dan terapi murrotal Al-Qur’an diberikan selama 2 jam per hari selama 3 hari. Analisis data menggunakan uji paired sample t-test. Rerata berat badan bayi sebelum intervensi sebesar 1.634 gram dan meningkat menjadi 1.758,33 gram setelah intervensi dengan selisih rerata 124,33 gram. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara berat badan sebelum dan sesudah intervensi (p < 0,001). Kombinasi perawatan metode kanguru dan murrotal Al-Qur’an berhubungan dengan peningkatan berat badan bayi BBLR. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan kelompok kontrol, jumlah sampel lebih besar, serta periode observasi lebih panjang untuk memperkuat bukti efektivitas intervensi.