Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan internet sebagai sumber informasi kesehatan yang dapat memunculkan perilaku cyberchondria, yaitu kecenderungan mencari informasi kesehatan secara berlebihan yang disertai rasa cemas terhadap kondisi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat cyberchondria pada siswa SMK Abdi Negara Binjai serta implikasinya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi penelitian berjumlah 234 siswa, sedangkan sampel penelitian sebanyak 70 siswa yang ditentukan menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian berupa angket yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas dengan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,987. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dengan bantuan program IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat cyberchondria pada siswa SMK Abdi Negara Binjai berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata (mean) sebesar 58,73 atau persentase sebesar 58,73%. Seluruh indikator, yaitu excessiveness, distress, compulsion, dan reassurance, juga berada pada kategori sedang. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan dan konseling perlu mengoptimalkan layanan informasi, bimbingan kelompok, dan konseling individual untuk meningkatkan literasi kesehatan, kemampuan menyaring informasi dari internet, serta membantu siswa mengelola kecemasan akibat pencarian informasi kesehatan secara berlebihan.