Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Keputusan Swedia Bergabung dalam Blok NATO (North Atlantic Treaty Organization) pada Tahun 2024 Farhan Adelard Taqi; Suyani Indriastuti; Fuat Albayumi
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 4 No. 7 (2026): Blantika: Multidisciplinary Journal
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v4i7.525

Abstract

Setelah mempertahankan kebijakan netralitas militer selama lebih dari dua abad, Swedia secara resmi bergabung menjadi anggota ke-32 NATO pada tahun 2024. Keputusan historis ini menandai perubahan signifikan dalam strategi keamanan nasional Swedia dan menarik untuk dikaji mengingat negara tersebut konsisten tidak terlibat dalam aliansi militer sejak Perang Dunia I, Perang Dunia II, hingga Perang Dingin.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan di balik keputusan Swedia bergabung dalam North Atlantic Treaty Organization (NATO) pada tahun 2024 setelah mempertahankan kebijakan netralitas militer selama lebih dari dua abad. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur melalui analisis jurnal ilmiah, buku, dokumen resmi pemerintah, publikasi NATO, serta sumber-sumber terpercaya lainnya. Analisis dilakukan menggunakan perspektif neorealisme dan konsep aliansi untuk menjelaskan perubahan kebijakan luar negeri Swedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua faktor utama yang mendorong Swedia bergabung dengan NATO. Pertama, meningkatnya persepsi ancaman dari Rusia, yang ditinjau berdasarkan konsep balance of threat Stephen M. Walt, meliputi kekuatan agregat (aggregate power), kedekatan geografis (geographic proximity), intensi agresif (aggressive intentions), dan kapabilitas ofensif (offensive power). Kedua, tingginya komitmen dan kredibilitas NATO dalam memberikan jaminan keamanan kolektif kepada negara anggotanya sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Traktat NATO. Keanggotaan Swedia dalam NATO menunjukkan adanya pergeseran strategi keamanan nasional dari kebijakan netralitas menuju sistem pertahanan kolektif sebagai respons terhadap perubahan dinamika geopolitik di kawasan Eropa.