Status gizi balita merupakan indikator penting dalam menilai pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor sosiodemografi keluarga, seperti tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ayah, dan pendapatan keluarga, berperan dalam menentukan status gizi balita. Identifikasi faktor-faktor tersebut diperlukan sebagai dasar penyusunan program intervensi gizi yang tepat sasaran. Menganalisis hubungan faktor sosiodemografi keluarga dengan status gizi anak balita di wilayah kerja Puskesmas Ngawen. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Desa Candirejo wilayah kerja Puskesmas Ngawen pada November–Desember 2025. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 12–59 bulan sebanyak 62 balita dengan teknik total sampling. Data faktor sosiodemografi dikumpulkan menggunakan kuesioner, sedangkan status gizi diukur berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U) mengacu pada standar WHO. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 5%. Sebagian besar balita memiliki status gizi normal (58,1%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan antara usia balita (p-value 0,397) dan jenis kelamin (p-value 0,204) dengan status gizi. Sebaliknya, terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu (p-value 0,001), pekerjaan ayah (p-value <0,001), dan pendapatan keluarga (p-value <0,001) dengan status gizi balita. Tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ayah, dan pendapatan keluarga berhubungan dengan status gizi balita, sedangkan usia dan jenis kelamin balita tidak berhubungan. Peningkatan status gizi balita memerlukan dukungan edukasi gizi bagi orang tua serta penguatan kondisi ekonomi keluarga.