Dalam studi mendalam ini, kami mengeksplorasi peran krusial Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai mekanisme utama dalam mengidentifikasi dan menentukan lansia miskin sebagai penerima bantuan sosial di desa perkotaan Rorotan, Jakarta Utara. DTSEN, yang dirancang sebagai sistem pengumpulan data terintegrasi oleh pemerintah, bertujuan untuk memastikan distribusi bantuan sosial yang lebih terarah, transparan, dan adil bagi semua lapisan masyarakat. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang diperkaya dengan perspektif sosiologis, studi ini mengumpulkan data lapangan melalui serangkaian wawancara mendalam, pengamatan langsung di lapangan, dan penelitian arsip, melibatkan pejabat desa setempat, pekerja sosial profesional, dan lansia yang menjadi penerima manfaat. Hasil studi menunjukkan bahwa implementasi DTSEN telah membawa peningkatan signifikan dalam validitas dan akurasi penentuan penerima bantuan, dari 78 persen menjadi 93 persen.Sistem ini telah terbukti efektif dalam meminimalkan duplikasi data yang tidak diinginkan, memperbaiki kesalahan pencatatan yang sering terjadi, dan memperkuat sinergi koordinasi antara lembaga-lembaga terkait. Namun, di balik kesuksesan ini, tantangan nyata tetap ada: tingkat literasi digital yang tidak merata di kalangan petugas lapangan, proses pembaruan data yang kadang-kadang lambat, dan kurangnya partisipasi aktif masyarakat dalam tahap verifikasi. Dari perspektif teoretis, DTSEN tidak hanya berfungsi sebagai alat administratif, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk memperkuat prinsip keadilan sosial dan mendorong hubungan yang lebih egaliter antara negara dan warganya. Untuk mengoptimalkan implementasi sistem ini di masa depan, studi ini mendorong langkah-langkah konkret seperti meningkatkan kapasitas institusional melalui pelatihan intensif, memperkuat kolaborasi antar lembaga, dan mendorong partisipasi aktif masyarakat sebagai mitra setara dalam proses pengambilan keputusan. Melalui narasi ini, kami berharap dapat menginspirasi diskusi yang lebih luas tentang bagaimana teknologi dan kebijakan dapat bekerja sama untuk mencapai kesejahteraan sosial yang lebih inklusif.