Ahmad Zaki Sujai
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konversi Modal Sosial di Ruang Siber Strategi Resiliensi Budaya Masyarakat Osing Kemiren Menghadapi Disrupsi Digital Ahmad Zaki Sujai
Sumbula: Jurnal Studi Keagamaan, Sosial dan Budaya Vol. 11 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Darul 'Ulum Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/sumbula.v11i2.11203

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedah strategi resiliensi budaya masyarakat Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, dalam menghadapi disrupsi digital melalui lensa teori praktik sosial Pierre Bourdieu. Di era kontemporer, arus globalisasi cenderung menyeragamkan budaya, namun masyarakat Osing Kemiren menunjukkan kemampuan dinamis dengan melakukan konversi modal sosial ke ruang siber. Ruang digital tidak lagi sekadar menjadi media komunikasi, melainkan bertransformasi menjadi arena (field) baru untuk memperkuat identitas lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan etnografi daring dan wawancara mendalam, penelitian ini menemukan bahwa masyarakat Kemiren berhasil mengonversi modal sosial yang berakar pada nilai paseduluran dan gotong royong menjadi modal simbolik berupa prestise digital serta modal ekonomi melalui promosi produk lokal dan wisata. Peran pemuda adat menjadi krusial sebagai agen konversi yang mampu menavigasi algoritma media sosial tanpa menghilangkan marwah asli tradisi. Resiliensi budaya ini dibentuk melalui Model Resiliensi Transformatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi di Desa Kemiren diposisikan secara instrumental di bawah kendali kedaulatan adat. Keuntungan ekonomi yang diperoleh dari ruang siber kemudian dialokasikan kembali untuk menghidupi ekosistem sosial dan ritual adat. Ini menciptakan sirkularitas modal yang menjaga keberlangsungan nilai-nilai luhur leluhur di tengah derasnya arus modernisasi, sehingga dapat menjadi rujukan bagi budaya lain dalam mempertahankan identitas lokal di era disrupsi.