Krisis ekonomi global pascapandemi telah memperlihatkan kerentanan negara berkembang, termasuk Argentina, yang menghadapi inflasi tinggi, fluktuasi perdagangan, dan tekanan sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana dinamika perdagangan, terms of trade, ketergantungan pada pembiayaan eksternal, dan dampak sosial mencerminkan posisi Argentina dalam relasi negara pusat dan pinggiran, serta sejauh mana ketergantungan struktural membatasi transformasi ekonomi. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis kualitatif, dengan pengumpulan data melalui dokumentasi resmi, laporan lembaga internasional, dan publikasi akademik, serta analisis interpretatif menggunakan kerangka logika ketergantungan Prebisch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Argentina tetap sangat bergantung pada ekspor komoditas primer dan impor barang manufaktur, menghadapi volatilitas terms of trade, dan memerlukan pembiayaan eksternal untuk menstabilkan cadangan devisa. Transformasi struktural domestik berjalan lambat, sementara pemulihan sosial-ekonomi bersifat tidak merata, dengan kelompok rentan tetap menghadapi tekanan signifikan. Kesimpulannya, krisis Argentina pascapandemi menegaskan relevansi logika ketergantungan Prebisch, di mana keterbatasan kapasitas domestik dan ketergantungan eksternal membentuk siklus krisis dan pemulihan parsial. Strategi jangka panjang harus fokus pada diversifikasi ekonomi, industrialisasi, dan penguatan kapasitas internal untuk mengurangi kerentanan struktural dan meningkatkan ketahanan sosial-ekonomi. Kata Kunci: Argentina; IMF; ketergantungan; krisis; pascapandemi.