Uswatun Khasanah
Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan, Universitas Pejuang Republik Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KARAKTERISTIK PASIEN DAN TANTANGAN PENGOBATAN TUBERKULOSIS BERDASARKAN DATA SURVEILANS Uswatun Khasanah; Idhar Darlis
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.55895

Abstract

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya pada kesinambungan pelayanan dari diagnosis hingga pengobatan. Salah satu celah penting adalah pre-treatment non-initiation, yaitu kondisi pasien yang telah terdiagnosis namun belum memulai terapi, sehingga meningkatkan risiko penularan, komplikasi, dan resistensi obat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien serta tantangan pengobatan TBC berdasarkan data surveilans di Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder rekam medis periode Januari–September 2025 dari beberapa kabupaten/kota dengan beban kasus tinggi. Variabel yang dianalisis meliputi umur, jenis kelamin, hasil foto toraks, kategori pasien, dan status pengobatan, yang selanjutnya dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian terhadap 44 pasien menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada kelompok umur 40–60 tahun (50%) dan didominasi oleh laki-laki (59%). Hasil foto toraks positif ditemukan pada 52% pasien, namun masih terdapat ketidaklengkapan data sebesar 45% yang tidak dilakukan atau tidak diketahui. Kategori pasien baru dan kambuh memiliki proporsi yang sama (48%). Tantangan utama ditemukan pada status pengobatan, yaitu 23% pasien meninggal sebelum memulai terapi, 20% menolak pengobatan, 5% belum memulai terapi, serta 20% dengan status pengobatan tidak diketahui. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pengendalian TBC tidak hanya dipengaruhi oleh aspek klinis, tetapi juga faktor sosial, perilaku, akses layanan kesehatan, serta kelemahan dalam sistem pencatatan dan pemantauan pasien. Oleh karena itu, diperlukan penguatan skrining aktif, peningkatan edukasi untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kepatuhan terapi, pendampingan pasien, serta perbaikan sistem informasi kesehatan guna meningkatkan keberhasilan pengobatan TBC.