Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara teratur dan tuntas, serta kualitas komunikasi terapeutik perawat yang berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan dan kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas DTP Gununghalu Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 46 pasien tuberkulosis paru yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Therapeutic Communication Questionnaire (TCQ), Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8), dan RAND 36-Item Health Survey, dengan analisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori kurang (39,1%), cukup (32,6%), dan baik (28,3%). Kepatuhan pengobatan sebagian besar berada pada kategori tidak patuh (52,2%), dan kualitas hidup didominasi kategori buruk (56,5%). Terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan pengobatan (p < 0,001) dan dengan kualitas hidup pasien (p = 0,001). Komunikasi terapeutik perawat yang lebih baik berkorelasi dengan tingkat kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup yang lebih baik pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas DTP Gununghalu. Disarankan agar perawat menerapkan komunikasi terapeutik secara konsisten dan terstruktur dalam setiap interaksi dengan pasien tuberkulosis paru.