Arieni Ramadhan
Program Studi Sarjana Keperawatan, Fakultas Keperawatan, Institut Kesehatan Rajawali

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU Siti Novita Puspitaningrum; Eny Kusmiran; Arieni Ramadhan; Lisbet Octovia Manalu
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.56814

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Keberhasilan terapi pada pasien TB sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara teratur hingga selesai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komunikasi interpersonal perawat dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Ciwaruga Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 42 pasien tuberkulosis paru yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner komunikasi interpersonal perawat, Family Support Scale (FSS), serta Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal perawat sebagian besar berada pada kategori kurang (40,5%), diikuti kategori cukup (31,0%) dan baik (28,6%). Dukungan keluarga mayoritas berada pada kategori kurang (42,9%), kemudian kategori cukup (26,2%) dan baik (31,0%). Sementara itu, tingkat kepatuhan minum obat pasien sebagian besar berada pada kategori tidak patuh (52,4%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi interpersonal perawat dengan kepatuhan minum obat (p = 0,005) serta antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat (p = 0,002) pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Ciwaruga. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik komunikasi interpersonal perawat dan semakin tinggi dukungan keluarga, maka tingkat kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru juga cenderung meningkat.
HUBUNGAN TINGKAT EMPATI DENGAN KECEMASAN MAHASISWA NERS DALAM PRAKTIK KLINIK DI RUMAH SAKIT Shiva Adelia Al Rizkya; Eny Kusmira; Arieni Ramadhan; Lisbet Octovia Manalu
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.56840

Abstract

Praktik klinik merupakan proses penting dalam pendidikan profesi ners karena mahasiswa mulai terlibat secara langsung dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pada tahap ini mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki keterampilan klinik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan tuntutan tanggung jawab profesional. Hal ini bisa memicu kecemasan pada mahasiswa. Kecemasan yang tidak terkelola dengan baik berpengaruh pada kualitas hubungan terapeutik dengan pasien. Salah satu faktor internal yang diduga berperan dalam membantu mahasiswa menghadapi tekanan tersebut adalah empati. Empati memungkinkan mahasiswa memahami kondisi emosional pasien, membangun komunikasi efektif, serta memaknai pengalaman praktik klinik secara lebih adaptif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat empati dengan kecemasan mahasiswa ners dalam praktik klinik di rumah sakit dengan pendekatan kuantitatif, desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 71 mahasiswa profesi ners yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Jefferson Scale of Physician Empathy Nursing Student Version Revised (JSPE-R) dan State-Trait Anxiety Inventory (STAI). Data dianalisi dengan uji Chi-Square, tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan 53,5% responden memiliki empati tinggi dan 46,5% empati rendah. Tingkat kecemasan mahasiswa berada pada kategori tinggi (40,8%), sedang (31,0%), dan rendah (28,2%). Uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara tingkat empati dan kecemasan mahasiswa dalam praktik klinik (p = 0,001; p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa empati berperan dalam membantu mahasiswa mengelola kecemasan selama praktik klinik.