Meylan Novela Iek
S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Manado

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SURVEILANS PENYAKIT ISPA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBOKEN Jihan Apande; Gylbert GrenWino Sitompul; Merlyn Obinaru; Junika Kristin Kakampu; Meylan Novela Iek; Farawasti Malone
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58106

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Remboken Kabupaten Minahasa, dengan tingginya kasus yang dipengaruhi faktor lingkungan dan perilaku masyarakat, sehingga diperlukan evaluasi dan penguatan sistem surveilans sebagai dasar penguatan program dan pengendalian penyakit yang lebih efektif. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, serta penelusuran dokumen surveilans ISPA, dan dianalisis secara deskriptif berdasarkan komponen input, proses, dan output. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surveilans ISPA di Puskesmas Remboken didukung oleh sumber daya manusia yang terlatih, ketersediaan sarana diagnostik, obat-obatan esensial, serta sistem pencatatan dan pelaporan rutin. Proses surveilans dilakukan melalui pengumpulan, pengolahan, analisis, dan pelaporan data kasus secara berkala, namun analisis data masih terbatas. Pengumpulan dan pelaporan data berjalan baik, dengan tren peningkatan kasus dari 747 kasus pada 2024 menjadi 948 kasus pada Januari–September 2025, dan lonjakan tertinggi pada Juli–September 2025. Tren kasus dipengaruhi faktor lingkungan, perilaku masyarakat, serta efektivitas intervensi kesehatan. Meskipun sistem pencatatan, fasilitas, dan tenaga memadai, pemantauan faktor risiko lingkungan dan analisis data belum optimal. Untuk menurunkan kejadian ISPA diperlukan penguatan kunjungan rumah, edukasi masyarakat, mitigasi risiko lingkungan, peningkatan kapasitas petugas, surveilans berbasis lingkungan, serta pemantauan dan evaluasi berkelanjutan.