S. Tauriana
S1 Ilmu Keperawatan, Fakultas Kesehatan, Universitas Nurul Jadid

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN PERSEPSI PERAWAT TENTANG PELAYANAN BPJS DENGAN KUALITAS PELAYANAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT (X) Uswatun Hasanah; Husnul Khotimah; S. Tauriana
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58253

Abstract

Pelayanan BPJS Kesehatan merupakan bagian dari sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang bertujuan memberikan akses pelayanan kesehatan yang merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat. Dalam pelaksanaannya, perawat sebagai tenaga kesehatan yang berada di garis depan pelayanan memiliki peran penting dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan. Persepsi perawat terhadap sistem pelayanan BPJS dapat memengaruhi motivasi kerja, profesionalisme, serta mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara persepsi perawat tentang pelayanan BPJS dengan kualitas pelayanan keperawatan di Rumah Sakit Wonolangan Kabupaten Probolinggo. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan korelasional cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 105 perawat aktif yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner persepsi perawat tentang pelayanan BPJS dan kuesioner kualitas pelayanan keperawatan berdasarkan dimensi SERVQUAL, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi sedang terhadap pelayanan BPJS sebanyak 88 responden (83,8%), sedangkan kualitas pelayanan keperawatan sebagian besar berada pada kategori cukup sebanyak 79 responden (75,2%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi perawat tentang pelayanan BPJS dengan kualitas pelayanan keperawatan (p=0,012; r=-0,243). Disimpulkan bahwa persepsi perawat terhadap pelayanan BPJS berhubungan secara signifikan dengan kualitas pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi dan perbaikan sistem pelayanan BPJS serta dukungan manajemen rumah sakit untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN MENARCHE DINI PADA REMAJA SANTRI USIA 12-15 TAHUN Imamatus Zahrah; S. Tauriana; Zainal Munir
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58295

Abstract

Menarche merupakan indikator awal kematangan seksual pada remaja putri yang ditandai dengan perubahan fisiologis, biologis, serta emosional. Dalam beberapa dekade terakhir, usia Menarche mengalami penurunan signifikan, dari rata-rata 14 tahun menjadi di bawah 12 tahun. Fenomena Menarche dini ini menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang seperti penyakit kardiovaskular dan kanker payudara. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Menarche dini. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan populasi sebanyak 1179 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus slovin dan diperoleh sampel sebanyak 299 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Analisa data uji bivariat dengan Chi-Square dan uji multivariat menggunakan regresi logistik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2024. Hasil yang diperoleh setelah dilakukan dengan uji bivariat chi-square dan multivariate uji regresi logistic. Status Menarche ibu (genetik) p value = 0,997, status Gizi p value = 0,000, konsumsi junk food p value = 0,000 paparan meda massa p value = 0,000, konsumsi junk food merupakan faktor paling dominan terhadap kejadian Menarche dini pada Remaja santri Di Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo. Pondok pesantren diharapkan dapat lebih memperhatikan aspek pola makan dan konsumsi harian santriwati dengan menyediakan makanan bergizi seimbang dan membatasi akses terhadap makanan cepat saji (junk food). Selain itu, penting bagi pesantren untuk memberikan edukasi secara rutin tentang kesehatan reproduksi dan dampak negatif paparan media massa yang tidak sesuai usia, melalui kerja sama dengan tenaga kesehatan atau institusi pendidikan.