Dispnea merupakan kondisi kegawatdaruratan yang sering ditemukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan menjadi penyebab utama diagnosis keperawatan pola napas tidak efektif. Intervensi mandiri keperawatan berupa posisi semi-Fowler dan teknik pursed-lip breathing (PLB) diketahui efektif memperbaiki status respirasi; namun pemilihan intervensi yang tepat berdasarkan kondisi klinis individu di IGD masih memerlukan kajian lebih mendalam. Penelitian menggunakan desain studi kasus seri (case series) dengan pendekatan deskriptif komparatif. Dua pasien dispnea di IGD dipilih secara purposive sampling. Pasien 1 (PPOK, SpO₂ 93%) menerima posisi semi-Fowler 30° dan O₂ nasal kanul 3 L/menit, sedangkan Pasien 2 (sequelae TB paru, SpO₂ 72%) menerima semi-Fowler 30°, teknik PLB, dan O₂ NRM 10 L/menit. Pengkajian menggunakan Skala Borg Dispnea yang Dimodifikasi dan kerangka SDKI–SLKI–SIKI dengan pemantauan setiap 15 menit. Pasien 1 mencapai resolusi klinis optimal (RR 20 x/mnt, SpO₂ 99%, Borg 1). Pasien 2 mencapai perbaikan oksigenasi (SpO₂ 99%) namun masih terdapat tanda klinis pola napas tidak efektif (RR 25 x/mnt, Borg 5, otot bantu aktif, ekspirasi memanjang). Temuan ini menunjukkan disonansi antara normalisasi SpO₂ dan resolusi klinis gangguan ventilasi. Intervensi mandiri keperawatan efektif meningkatkan parameter oksigenasi, namun normalisasi SpO₂ tidak selalu mencerminkan resolusi klinis pola napas. Evaluasi komprehensif berbasis SDKI–SLKI–SIKI dan pemilihan intervensi berbasis kondisi klinis individu merupakan elemen esensial praktik keperawatan profesional di IGD.