Amraini Amelia
S1 Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Adiwangsa Jambi

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KECAMATAN HAMPARAN RAWANG KOTA SUNGAI PENUH PERIODE TAHUN 2024 Mutma Regina; Amraini Amelia
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58566

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kejadian DRPs pada pasien di Puskesmas Kecamatan Hamparan Rawang Kota Sungai Penuh Periode tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian adalah seluruh pasien hipertensi di Puskesmas Kecamatan Hamparan Rawang periode Januari-Desember 2024. Sampel penelitian sebanyak 93 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik random sampling. Variabel penelitian ini meliputi karakteristik pasien dan kejadian DRPs. Pengumpulan data dilakukan menggunakan rekam medis pasien hipertensi. Identifikasi DRPs dilakukan berdasarkan klasifikasi PCNE V9.00 meliputi indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, dan interaksi obat. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien adalah perempuan, sebanyak 62 pasien (67%), dan usia tertinggi adalah 60-69 tahun, sebanyak 38 pasien (41%). Dari 93 pasien, 60 kasus DRPs termasuk kedalam kategori obat tanpa indikasi, sebanyak 48 kasus (80%), diikuti oleh indikasi tanpa obat, sebanyak 6 kasus (10%) dan interaksi obat sebanyak 6 kasus (10%). Interaksi obat yang paling sering ditemukan adalah kombinasi amlodipine dan ibuprofen yang berpotensi menurunkan efektivitas terapi antihipertensi. Kejadian DRPs pada pasien hipertensi di Puskesmas Kecamatan Hamparan Rawang masih cukup tinggi, terutama pada kategori obat tanpa indikasi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pemantauan terapi dan peran aktif tenaga kesehatan, khususnya apoteker, untuk meningkatkan keselamatan pasien dan efektivitas terapi hipertensi.