M. Dodik Prastiyo
Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Permata Nusantara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERBEDAAN INDEKS SEHGAL DAN INDEKS MENTZER DALAM SKRINING AWAL TALASEMIA-β (BETA) PADA REMAJA Muhammad Irsyad Kamaludin; M. Dodik Prastiyo; Sifa Fauziah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58931

Abstract

PERBEDAAN INDEKS SEHGAL DAN INDEKS MENTZER DALAM SKRINING AWAL TALASEMIA-β (BETA) PADA REMAJA   Muhammad Irsyad Kamaludin1*, M. Dodik Prastiyo2, Sifa Fauziah3 Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Permata Nusantara1,2,3 *Corresponding Author : irsyadkmkz@gmail.com   ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil skrining awal talasemia-β antara Indeks Sehgal dan Indeks Mentzer pada remaja di SMK Kesehatan Cianjur. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 28 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari siswa kelas 10 berusia 14-17 tahun. Sampel darah dianalisis menggunakan Hematology Analyzer untuk memperoleh parameter CBC (Hb, RBC, MCV, MCH). Indeks Mentzer (MCV÷RBC) dan Indeks Sehgal (MCV×MCH÷RBC) dihitung untuk setiap responden dan dianalisis menggunakan uji paired sample t-test dan analisis kurva Receiver Operating Characteristic (ROC). Dari 28 responden, mayoritas berusia 16 tahun (50,0%) dan berjenis kelamin perempuan (92,9%). Nilai rata-rata Indeks Mentzer adalah 16,86±2,31 (rentang 12,32–22,74) dan Indeks Sehgal sebesar 462,57±89,56 (rentang 220,56-664,11), yang mengarah pada kemungkinan anemia defisiensi besi. Uji paired sample t-test menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua indeks (p-value = 0,000 <0,05). Analisis kurva ROC menunjukkan kedua indeks memiliki nilai Area Under the Curve (AUC) sebesar 1,000 dengan nilai cut-off optimal ≤12,90 (Indeks Mentzer) dan ≤269,92 (Indeks Sehgal). Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal menunjukkan performa diagnostik yang setara dan sangat baik dalam skrining awal talasemia-β pada remaja. Indeks Mentzer direkomendasikan sebagai alat skrining awal yang praktis, sederhana, dan ekonomis di pelayanan kesehatan primer maupun program kesehatan berbasis sekolah.   Kata kunci    : indeks mentzer, indeks sehgal, remaja, skrining awal, talasemia-β   ABSTRACT This study aimed to determine the difference between the Sehgal Index and the Mentzer Index in early screening of thalassemia-β among adolescents at SMK Kesehatan Cianjur. This study employed an observational analytic method with a cross-sectional design. A total of 28 respondents were selected using purposive sampling from Class 10 students aged 14-17 years. Blood samples were analyzed using a Hematology Analyzer to obtain CBC parameters (Hb, RBC, MCV, MCH). The Mentzer Index (MCV÷RBC) and Sehgal Index (MCV×MCH÷RBC) were calculated and analyzed using paired sample t-test and Receiver Operating Characteristic (ROC) curve analysis. Of 28 respondents, the majority were 16 years old (50.0%) and female (92.9%). The mean Mentzer Index was 16.86±2.31 (range 12.32–22.74) and the mean Sehgal Index was 462.57±89.56 (range 220.56-664.11), indicating iron deficiency anemia rather than thalassemia trait. The paired sample t-test demonstrated a statistically significant difference between the two indices (p-value = 0.000 <0.05). ROC curve analysis revealed that both indices achieved an Area Under the Curve (AUC) value of 1.000, with optimal cut-off values of ≤12.90 and ≤269.92, respectively. Both the Mentzer Index and Sehgal Index demonstrated equivalent and excellent diagnostic performance in early thalassemia-β screening among.   Keywords      : adolescents, early screening, mentzer index, sehgal index, thalassemia-β     PENDAHULUAN   Talasemia merupakan kelainan hemoglobin herediter yang diakui oleh World Health Organization (WHO) sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat global yang paling signifikan. Sekitar 7% populasi dunia diperkirakan merupakan pembawa (carrier) kelainan hemoglobin, termasuk talasemia (Jilek et al., 2024). Berdasarkan analisis Global Burden of Disease (GBD) 2021, hemoglobinopati termasuk talasemia menyumbang 3,4% dari total kematian anak di bawah usia lima tahun secara global, dengan beban terbesar di kawasan Mediterania, Timur Tengah, dan Asia Tenggara (Tuo et al., 2024). WHO memperkirakan bahwa insiden pembawa sifat talasemia di Indonesia berkisar 6-10%, artinya dari setiap 100 orang penduduk terdapat 6-10 orang merupakan pembawa sifat talasemia (Wahidiyat et al., 2022). Pada tahun 2021, jumlah penderita talasemia-β mayor di Indonesia sebanyak 10.973 orang atau sekitar 3,59% dari jumlah populasi, sehingga pemerintah mendorong pelaksanaan skrining sejak dini (Kementerian Kesehatan RI, 2022). Data Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Jawa Barat Tahun 2024 mencatat sekitar 40% penyandang talasemia berat di Jawa Barat atau 5.417 kasus, menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi dengan prevalensi tertinggi di Indonesia (Bappeda Jabar, 2025). Talasemia-β merupakan penyakit genetik yang ditandai dengan kekurangan sintesis hemoglobin akibat kelainan β-globin sehingga mengakibatkan produksi eritrosit yang tidak efektif(Tuo et al., 2024). Remaja yang merupakan pembawa sifat talasemia-β atau yang terkena talasemia-β mayor biasanya menghadapi rasa lelah, hambatan pertumbuhan, dan bahkan kerusakan organ tubuh (Rediyanto, 2023). Sejumlah remaja tidak terdeteksi skrining anemia akibat minimnya pengetahuan dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan (Wahidiyat et al., 2022). Skrining gen β-talasemia yang dilakukan pada remaja usia sekolah di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan prevalensi pembawa sifat (carrier) berkisar antara 5 hingga 12% (Adhiyanto et al., 2017). Oleh karena itu, metode skrining yang sederhana namun efektif perlu dikembangkan agar dapat digunakan di tingkat sekolah guna meningkatkan skrining dini (Rastogi & AS, 2020). Penggunaan indeks hematologi sederhana seperti Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal menjadi alternatif yang relevan dan terjangkau untuk mendukung skrining dini talasemia-β pada remaja karena dapat dihitung dari pemeriksaan darah lengkap yang sudah umum tersedia (Rastogi & AS, 2020). Studi evaluasi diagnostik menunjukkan bahwa Indeks Mentzer memiliki sensitivitas sekitar 74% dan spesifisitas 63%, dengan Negative Predictive Value (NPV) mencapai 98%, sehingga efektif untuk deteksi kemungkinan talasemia-β (AlQarni et al., 2024). Sementara itu, Indeks Sehgal dilaporkan memiliki NPV tertinggi sebesar 95,96% serta sensitivitas yang baik dalam membedakan pembawa sifat talasemia-β dari kondisi anemia lainnya (Rastogi & AS, 2020). Hingga saat ini, belum terdapat penelitian yang secara khusus membandingkan hasil skrining Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal pada remaja di SMK Kesehatan Cianjur sebagai upaya skrining dini berbasis sekolah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil skrining awal talasemia-β antara Indeks Sehgal dan Indeks Mentzer pada remaja di SMK Kesehatan Cianjur.   METODE   Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional), yang dilaksanakan pada bulan Februari 2026 di SMK Kesehatan Cianjur. Desain ini dipilih karena bertujuan membandingkan hasil skrining talasemia-β menggunakan dua indeks dalam satu kali pengambilan data. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas 10 yang berjumlah 94 orang. Teknik penentuan sampel menggunakan purposive sampling dengan rumus Slovin (toleransi kesalahan 15%), menghasilkan sampel minimal 30 orang ditambah asumsi drop out 10% sehingga total 33 orang. Pada pelaksanaannya, diperoleh 28 responden yang memenuhi kriteria. Kriteria inklusi meliputi: siswa SMK Kesehatan Cianjur kelas 10 berusia 14-17 tahun, tidak memiliki penyakit kronis atau akut yang memengaruhi kadar hemoglobin, bersedia berpartisipasi dengan menandatangani lembar informed consent, bersedia menjalani pemeriksaan darah, dan dalam kondisi kesehatan umum yang stabil. Kriteria eksklusi meliputi: riwayat penyakit kronis atau akut yang memengaruhi parameter hematologi, pernah menjalani transfusi darah dalam tiga bulan terakhir, sedang mengonsumsi obat-obatan yang memengaruhi kadar hemoglobin, memiliki data pemeriksaan darah tidak lengkap, serta menolak atau menarik diri dari penelitian. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal, sedangkan variabel dependen adalah hasil skrining awal talasemia-β pada remaja. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium darah lengkap Complete Blood Count (CBC) menggunakan alat Hematology Analyzer otomatis untuk memperoleh parameter Hb, RBC, MCV, dan MCH. Indeks Mentzer dihitung dengan rumus MCV÷RBC, dengan nilai cut-off <13 mengarah pada kemungkinan β-talasemia trait dan ≥13 mengarah pada anemia defisiensi besi Indeks Sehgal dihitung dengan rumus (MCV×MCH)÷RBC, dengan nilai cut-off <300 menunjukkan kemungkinan β-talasemia trait dan ≥300 menunjukkan kemungkinan anemia defisiensi besi. Analisis data meliputi analisis univariat untuk menggambarkan distribusi demografis dan nilai indeks, uji paired sample t-test untuk membandingkan rata-rata kedua indeks pada subjek yang sama, dan analisis kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) untuk menilai kemampuan diagnostik masing-masing indeks melalui nilai Area Under the Curve (AUC). Penelitian ini telah memperoleh sertifikat Lolos Kaji Etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) STIKes Permata Nusantara dengan Ref: 092/9.V/KEPK-PERNUS/III/2026.   HASIL   Penelitian ini melibatkan 28 responden siswa-siswi dari SMK Kesehatan Cianjur. Berikut disajikan hasil analisis univariat, t-test dependen dan roc.   Tabel 1.         Distribusi Data Demografi Responden (n=28) Data Demografi Kategori n % Usia 15 tahun 10 35,7   16 tahun 14 50,0   17 tahun 4 14,3   Total 28 100 Jenis Kelamin Laki-laki 2 7,1   Perempuan 26 92,9   Total 28 100   Berdasarkan tabel 1, mayoritas responden berusia 16 tahun (50,0%), diikuti usia 15 tahun (35,7%) dan 17 tahun (14,3%). Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (92,9%) dan hanya 2 orang (7,1%) berjenis kelamin laki-laki.   Tabel 2.         Hasil Pemeriksaan Indeks Eritrosit Responden (n=28) Parameter Mean±SD Minimun Maksimum MCV 82,35±5,35 60,50 88,70 MCH 27,22±5,35 19,80 29,70 RBC 4,93±0,44 3,90 5,70   Berdasarkan tabel 2, nilai rata-rata MCV sebesar 82,35±5,35 fL, MCH sebesar 27,22±5,35 pg, dan RBC sebesar 4,93±0,44 ×10¹²/L, yang secara keseluruhan masih dalam rentang normal atau batas bawah normal.   Tabel 3.         Nilai Indeks Skrining Awal Talasemia (n=28) Indeks Skrining Mean±SD Minimun Maksimum Indeks Mentzer 16±2,31 12,32 22,74 Indeks Sehgal 462,57±89,56 220,56 664,11   Berdasarkan tabel 3, nilai rata-rata Indeks Mentzer sebesar 16,86±2,31 (rentang 12,32-22,74). Nilai rata-rata ini berada di atas cut-off ≥13, menunjukkan bahwa sebagian besar responden lebih mengarah pada anemia defisiensi besi. Nilai rata-rata Indeks Sehgal sebesar 462,57±89,56 (rentang 220,56-664,11), berada di atas cut-off ≥300, yang juga mengarah pada kemungkinan anemia defisiensi besi.   Tabel 4.         Hasil Uji Paired Sample T-test dan Uji Normalitas (Shapiro-Wilk) Indikator Mean±SD N Shapiro-Wilk (p) p-value Indeks Mentzer 16,86±2,31 28 0,804 0,000* Indeks Sehgal 462,57±89,56 28 0,559 *Signifikan pada p < 0,05   Berdasarkan tabel 4, uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan data terdistribusi normal (p > 0,05), sehingga uji paired sample t-test dapat digunakan. Hasil uji menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara Indeks Mentzer (mean 16,86±2,31) dan Indeks Sehgal (mean 462,57±89,56) dengan p-value = 0,000 < 0,05. Perbedaan ini mencerminkan perbedaan skala numerik antara kedua indeks, bukan perbedaan kemampuan diagnostiknya.   Tabel 5.         Nilai Area Under Curve (AUC) Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal Variabel AUC Std.Error Asymptotic Sig. Cutt-off Optimal Indeks Mentzer 1,000 0,000 0,095 ≤12,90 Indeks Sehgal 1,000 0,000 0,095 ≤269,92   Berdasarkan tabel 5, analisis kurva ROC menunjukkan bahwa Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal sama-sama menghasilkan nilai AUC sebesar 1,000 dengan standar error 0,000. Nilai AUC sebesar 1,000 mengindikasikan kemampuan diskriminasi yang sempurna (excellent) dalam membedakan anemia defisiensi besi dan β-talasemia trait. Nilai Asymptotic Significance sebesar 0,095 (p > 0,05) menunjukkan tidak terdapat perbedaan kemampuan diagnostik yang bermakna secara statistik antara kedua indeks. Berdasarkan gambar 6 memperlihatkan curva ROC dengan nilai sensitivity dan specifity di mana nilai sensitivity dan specificity membentuk garis diagonal  dari titik (0,0) hingga (1,0). Hal ini menunjukkan bahwa nilai AUC mendekati 1,0  sehingga kemampuan diskriminasi indeks dalam membedakan talasemia dan non talasemia yang sempurna di mana untuk nilai sensitivity dan specificity  0,9-1,0 =sangat baik 0,8-0,89=baik 0,7-0,79 =cukup 06-0,69=lemah 0,5-0,59=sangat lemah 0,50 =tidak ada kemampuan diskriminasi. Meskipun hasil AUC menunjukkan nilai sempurna (1,0), namun jumlah sampel hanya 1 orang yang positif. Hal ini menyebabkan kurva ROC menjadi sangat sensitif terhadap nilai 1 orang tersebut, maka dari itu diperlukan penambahan jumlah positif dimasa mendatang untuk memvalidasi apakah akurasi sempurna ini tetap konsisten pada populasi yang lebih luas.   Gambar 1. Curva Roc PEMBAHASAN   Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata Indeks Mentzer sebesar 16,86±2,31, di mana mayoritas responden memiliki nilai ≥13 sehingga lebih mengarah pada anemia defisiensi besi dibandingkan β-talasemia trait. Secara teoritis, Indeks Mentzer yang merupakan rasio antara MCV dan jumlah eritrosit (RBC) digunakan untuk membedakan anemia mikrositik, di mana nilai <13 cenderung menunjukkan β-talasemia trait akibat RBC relatif tinggi meskipun MCV rendah, sedangkan nilai ≥13 menunjukkan anemia defisiensi besi (Bahraen, 2021). Nilai rata-rata yang tinggi pada penelitian ini memperkuat bahwa gambaran eritrosit responden lebih konsisten dengan anemia defisiensi besi, sebagaimana juga dilaporkan pada penelitian sebelumnya di populasi remaja (Yanti et al., 2023). Berbagai studi menyebutkan bahwa Indeks Mentzer merupakan metode skrining yang sederhana dan ekonomis dengan nilai NPV mencapai 98% ketika hasilnya ≥13 (AlQarni et al., 2024; Sahiratmadja E. et al., 2021). Nilai rata-rata Indeks Sehgal sebesar 462,57±89,56 dengan rentang 220,56-664,11 menunjukkan bahwa hampir seluruh responden memiliki nilai ≥300, sehingga secara deskriptif lebih mengarah pada anemia defisiensi besi dan bukan β-talasemia trait (Indrasari et al., 2021). Hasil ini konsisten dengan Indeks Mentzer pada penelitian yang sama, sehingga kedua indeks secara bersamaan memperkuat kesimpulan bahwa pola anemia yang terjadi lebih mengarah pada anemia defisiensi besi (Tabassum et al., 2022). Namun demikian, terdapat satu responden dengan nilai mendekati cut-off yang perlu diperhatikan, karena indeks diskriminan hanya berfungsi sebagai skrining awal dan tidak dapat menegakkan diagnosis definitif tanpa pemeriksaan lanjutan seperti elektroforesis hemoglobin (Yanti et al., 2023) Berdasarkan hasil analisis ROC, Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal sama-sama menunjukkan nilai AUC sebesar 1,000. Nilai AUC mendekati 1,0 menandakan performa diagnostik kategori excellent dalam membedakan anemia defisiensi besi (ADB) dan beta-thalassemia trait (BTT) pada remaja (Suman et al., 2022). Namun temuan ini harus diinterpretasikan secara hati-hati karena dari total 28 responden hanya terdapat satu sampel positif talasemia, sehingga kurva ROC menjadi sangat sensitif terhadap satu nilai tersebut, yang berpotensi menyebabkan overestimasi nilai AUC (Çorbacıoğlu & Aksel, 2023). Nilai Asymptotic Significance sebesar 0,095 (p > 0,05) mengkonfirmasi tidak terdapat perbedaan kemampuan diskriminasi yang bermakna secara statistik antara kedua indeks (Wu et al., 2024). Temuan ini sejalan dengan penelitian Suman (2022)yang melaporkan bahwa Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal sama-sama memiliki performa diskriminatif tinggi karena keduanya memanfaatkan parameter eritrosit yang sensitif terhadap perubahan mikrositik. Apabila ditinjau dari aspek penerapan klinis, Indeks Mentzer dinilai lebih praktis karena menggunakan rumus sederhana (MCV÷RBC), sehingga lebih mudah dihitung, diinterpretasikan, dan telah digunakan secara luas di berbagai fasilitas kesehatan. Di sisi lain, Indeks Sehgal merupakan indeks diskriminan yang lebih komprehensif karena melibatkan tiga parameter hematologi (MCV, MCH, RBC), sehingga berpotensi lebih unggul pada kasus talasemia mikrositik kompleks (Sehgal et al., 2015). Tingginya prevalensi anemia pada remaja di Indonesia 48,9% pada remaja putri usia 15-24 tahun berdasarkan Riskesdas, (2018) menunjukkan pentingnya program skrining dini yang ekonomis. Penggunaan indeks diskriminan sederhana seperti Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal menjadi langkah awal yang efektif karena seluruh parameter berasal dari pemeriksaan CBC rutin tanpa memerlukan reagen tambahan (Alkamali et al., 2024). Selain itu, perawat memiliki peran penting dalam pelaksanaan skrining talasemia, baik sebagai edukator, konselor, maupun koordinator pemeriksaan darah lengkap di fasilitas kesehatan primer (Handian et al., 2025). Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, jumlah sampel yang relatif terbatas dan distribusi data tidak seimbang (hanya satu sampel positif talasemia) menyebabkan nilai AUC sempurna yang perlu diinterpretasikan secara hati-hati. Kedua, desain cross-sectional hanya menggambarkan kondisi responden pada satu waktu pengamatan. Ketiga, penelitian belum dilengkapi pemeriksaan konfirmasi seperti elektroforesis hemoglobin atau HPLC sebagai gold standard. Keempat, beberapa faktor perancu seperti status gizi dan riwayat konsumsi suplemen zat besi belum dikendalikan. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar, distribusi data yang lebih seimbang, dan pemeriksaan konfirmasi definitif sangat diperlukan.   KESIMPULAN   Indeks Mentzer dan Indeks Sehgal menunjukkan performa diagnostik yang setara dan sangat baik dalam skrining awal talasemia-β pada remaja di SMK Kesehatan Cianjur, ditandai dengan nilai AUC sebesar 1,000 pada kedua indeks. Tidak terdapat perbedaan kemampuan diskriminasi yang bermakna secara statistik antara kedua indeks (Asymptotic Significance = 0,095; p > 0,05). Nilai rata-rata Indeks Mentzer (16,86±2,31) dan Indeks Sehgal (462,57±89,56) pada responden menunjukkan pola yang lebih mengarah pada anemia defisiensi besi dibandingkan talasemia-β. Terdapat perbedaan signifikan secara numerik antara kedua indeks (p-value = 0,000), yang mencerminkan perbedaan skala pengukuran bukan kemampuan diagnostik. Secara praktis, Indeks Mentzer direkomendasikan sebagai alat skrining awal yang sederhana, ekonomis, dan efektif di pelayanan kesehatan primer maupun program kesehatan berbasis sekolah. Penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan konfirmasi elektroforesis hemoglobin sangat disarankan untuk memvalidasi temuan ini.   UCAPAN TERIMAKASIH   Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, dosen penguji, Ketua STIKes Permata Nusantara, pihak SMK Kesehatan Cianjur, seluruh responden penelitian, serta keluarga dan teman-teman seperjuangan yang telah memberikan dukungan selama proses penelitian dan penulisan artikel ini.   DAFTAR PUSTAKA     Adhiyanto, C. … Mustafa, A. (2017). Screening of ß-Globin Gene Mutations in Adolescent Schoolgirls in Rural Malang and Sukabumi City, Java Province, Indonesia. 10(ICHLaS), 183–186. https://doi.org/10.2991/ichlas-17.2017.47 Alkamali, A. … Mazahir, F. (2024). Evaluating the Mentzer Index for Screening of Iron Deficiency Anemia and Beta Thalassemia Among Infants Visiting Primary Health Centers in Dubai, United Arab Emirates: A Retrospective Study. Cureus, 16(8), 6–12. https://doi.org/10.7759/cureus.66286 AlQarni, A. M. … Alreedy, A. H. (2024). Diagnostic test performance of the Mentzer index in evaluating Saudi children with microcytosis. Frontiers in Medicine, July, 1–7. https://doi.org/10.3389/fmed.2024.1361805 Bappeda Jabar. (2025). Jabar Komitmen Tekan Prevalensi Thalassemia. April, 7–10. Çorbacıoğlu, Ş. K., & Aksel, G. (2023). Receiver operating characteristic curve analysis in diagnostic accuracy studies: A guide to interpreting the area under the curve value. Turkish Journal of Emergency Medicine, 23(4), 195–198. https://doi.org/10.4103/tjem.tjem_182_23 Handian, F. I. … Thein, T. T. (2025). Exploring Public Attitude and Barriers toward Thalassemia Screening Strategies: A Systematic Review of Qualitative Studies. Nurse Media Journal of Nursing, 15(3), 439–457. https://doi.org/10.14710/nmjn.v15i3.61797 Indrasari, Y. N. … Yusoff, N. M. (2021). Reliability of different RBC indices and formulas in the discrimination of β-thalassemia minor and iron deficiency anemia in Surabaya, Indonesia. Indian Journal of Forensic Medicine and Toxicology, 15(1), 984–989. https://doi.org/10.37506/ijfmt.v15i1.13543 Jilek, R. … Tung, M. L. (2024). Iowa Newborn Screening Program Experience with Hemoglobinopathy Screening over the Last Two Decades and Its Increasing Global Relevance. International Journal of Neonatal Screening, 10(1). https://doi.org/10.3390/ijns10010021 Kementerian Kesehatan RI. (2022). Talasemia Penyakit Keturunan , Hindari dengan Deteksi Dini (Issue 021, pp. 2–4). Ministry of Health Republict of Indonesia. Novilla, A. … Romlah, S. (2024). Skrining Talasemia Pada Mahasiswa TLM ( D3 ) Fakultas Ilmu Dan Teknologi Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi Abstrak. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 16(September), 356–363. https://doi.org/https://doi.org/10.37012/jik.v16i2.2327 Rastogi, N., & AS, B. (2020). Sehgal index and its comparison with Mentzer’s index and Green and King index in assessment of peripheral blood smear with marked anisopoikilocytosis. International Journal of Research in Medical Sciences. https://www.academia.edu/download/121136247/5882.pdf Riskesdas. (2018). Aksi Bergizi : Gerakan Sehat untuk Remaja Masa Kini. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.kemkes.go.id/id/aksi-bergizi--gerakan-sehat-untuk-remaja-masa-kini#:~:text=Menanggulangi hal tersebut%2C pemerintah telah melakukan berbagai upaya,fortifikasi pangan%2C dan suplementasi Tablet Tambah Darah %28TTD%29. Sahiratmadja E., S. M. M. V. … R., P. (2021). Challenges in Thalassemia Carrier Detection in a Low Resource Setting Area of Eastern Indonesia : the Use of Erythrocyte Indices. Mediterranean Journal of Hematology and Infectious Diseases, 2–5. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.4084/MJHID.2021.003 Sehgal, K. … Khodaiji, S. (2015). Sehgal index : A new index and its comparison with other complete blood count-based indices for screening of beta thalassemia trait in a tertiary care hospital. Indian Journal of Pathology and Microbiology, 58(3). https://doi.org/10.4103/0377-4929.162862 Suman, F. R. … Balasubramanian, J. (2022). Screening for Beta Thalassemia Carrier State Among Women Attending Antenatal Clinic in a Tertiary Care Centre and Framing a Model Program for the Prevention of Beta Thalassemia. Cureus, 14(2), 2–7. https://doi.org/10.7759/cureus.22209 Tabassum, S. … Taj, N. (2022). Role of Mentzer index for differentiating iron deficiency anemia and beta thalassemia trait in pregnant women. Pakistan Journal of Medical Sciences, 38(4). https://doi.org/https://doi.org/10.12669/pjms.38.4.4635 Tuo, Y. … He, Z. (2024). Global, regional, and national burden of thalassemia, 1990–2021: a systematic analysis for the global burden of disease study 2021. EClinicalMedicine, 72(May), 102619. https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2024.102619 Wahidiyat, P. A. … Lubis, A. M. (2022). Thalassemia in Indonesia Hemoglobin Thalassemia in Indonesia. International Journal for Hemoglobin Research, 46(1), 39–44. https://doi.org/10.1080/03630269.2021.2023565 Wu, T. … Chen, Y. (2024). The value of Mentzer index in the diagnosis of children thalassemia minor. Hematology, 8454, 1–5. https://doi.org/10.1080/16078454.2024.2405750 Yanti, M. A. … Muhlisin, A. (2023). Perbedaan Nilai Indeks Mentzer,HBA2 Dan Status Besi Pada Anemia Defiesiensi Besi Dan Thalasemia Pada Pasien Anak Di Rsud Ulin Banjarmasin. Jurnal Analisis Labolatorium Medik, 8(1), 27–44. https://doi.org/https://doi.org/10.51544/jalm.v8i1.3818