Rifqa Alfina
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN DAN PERILAKU DENGAN KEJADIAN DBD DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BLANG BINTANG KABUPATEN ACEH BESAR Rifqa Alfina; Farrah Fahdhienie; Tiara Mairani
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58997

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. Faktor lingkungan dan perilaku masyarakat diduga berperan terhadap kejadian DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko lingkungan dan perilaku dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain case-control. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 42 responden yang terdiri dari 14 kasus dan 28 kontrol dengan rasio 1:2. Kasus dipilih menggunakan total sampling, sedangkan kontrol dipilih menggunakan random sampling. Variabel yang diteliti meliputi: suhu, kelembaban, penggunaan kasa nyamuk, kebiasaan menggantung pakaian, penggunaan obat nyamuk dan praktik 3M. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat dengan menggunakan program SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan menggantung pakaian (p = 0,014; OR = 6,92), penggunaan obat nyamuk (p = 0,013; OR = 5,4), dan praktik 3M (p = 0,004; OR = 7,5) berhubungan signifikan dengan kejadian DBD. Sementara itu, suhu dan penggunaan kasa nyamuk tidak berhubungan dengan kejadian DBD (p>0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa kebiasaan menggantung pakaian merupakan faktor yang paling berisiko terhadap kejadian DBD (p = 0,043; OR = 8,137). Disimpulkan bahwa faktor perilaku berhubungan dengan kejadian DBD dengan kebiasaan menggantung pakaian sebagai faktor yang paling berisiko. Puskesmas perlu memprioritaskan intervensi berbasis perubahan perilaku dalam upaya pengendalian DBD.