Resistensi insulin, pola makan kaya lemak dan karbohidrat, perilaku hidup kurang sehat, dan kurang aktifitas fisik pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 berpotensi menyebabkan gangguan metabolisme lipid yang dapat meningkatkan kadar trigliserida. Namun, bukti empirik mengenai asosiasi kadar glukosa dengan trigliserida pada populasi lokal di Indonesia tampaknya masih terbatas dan dengan hasil yang cenderung kontradiktif. Penelitian ini mempunyai tujuan utama untuk menguji hubungan antara kadar glukosa darah puasa dengan kadar trigliserida pada pasien DM tipe 2. Desain potong lintang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan data rekam medis. Subyek penelitian terdiri dari 174 pasien DM tipe 2 yang melakukan pemeriksaan kesehatan di RS X, Tanjung Priok, Jakarta pada periode Januari—Desember 2024. Pemeriksaan glukosa darah puasa (GDP) dan trigliserida di RS X menggunakan alat chemistry analyzer EasyRA. Hasil penelitian menunjukan proporsi pasien yang memiliki kadar GDP tinggi dan kadar trigliserida melebihi ambang normal masing-masing berturut-turut sebesar 75,3 persen dan 83,9 persen. Berdasarkan uji korelasi Spearman, didapatkan nilai p sebesar 0,034 (nilai p < 0,05) dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,161. Hasil tersebut menunjukan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan tetapi relatif lemah antara kadar GDP dengan kadar trigliserida pada pasien DM tipe 2. Peneliti menyarankan agar penelitian-penelitian selanjutnya mempertimbangkan penggunaan desain longitudinal dan menguji serta menganalisis variabel lain yang berpotensi memengaruhi hubungan antara kadar GDP dengan kadar trigliserida pada pasien DM tipe 2.