Dwi Nurmawaty
S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

FAKTOR PENGETAHUAN DALAM UTILISASI PESERTA PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) DI KLINIK PRATAMA UNIT PELAYANAN KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI Anggun Nabila; Fissilmi Kaaffah; Dwi Nurmawaty
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.59012

Abstract

Kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) sebagai penyebab kematian di Indonesia mengalami peningkatan prevalensi setiap tahunnya. Program terintegrasi dari BPJS Kesehatan untuk penderita penyakit kronis meliputi diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi dikenal sebagai Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis). Utilisasi Prolanis yaitu tingkat pemanfaatan peserta Prolanis untuk mengendalikan penyakit dan faktor yang mempengaruhi diantaranya pengetahuan. Penelitian ini menggunakan PRECEDE-PROCEED Model (Lawrence Green Theory), bertujuan menganalisis hubungan faktor pengetahuan terhadap utilisasi Prolanis di Klinik Pratama Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) Kementerian Kesehatan RI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi Cross Sectional. Jumlah populasi sebanyak 103 peserta Prolanis dan sampel sebanyak 68 responden dihitung dengan two proportion test. Kuesioner untuk mengukur variabel penelitian yang meliputi pengetahuan dan utilisasi peserta Prolanis. Analisis data menggunakan analisis univariat untuk mendeskripsikan dan analisis bivariat untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor pengetahuan dan utilisasi Prolanis di Klinik Pratama UPK Kementerian Kesehatan RI. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan pengetahuan baik sebanyak 94,1% dan pengetahuan kurang 5,9%. Di sisi lain, sebesar 61,8% tidak memanfaatkan (Prolanis) sedangkan yang memanfaatkan Prolanis berjumlah 38,2%. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan (p-values < 0.05) antara pengetahuan pasien dengan utilisasi Prolanis di Klinik Pratama Unit Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik, namun utilisasi Prolanis di Klinik Pratama UPK Kemenkes RI masih rendah. Hal tersebut menggambarkan bahwa tingginya pengetahuan belum tentu mendorong utilisasi Prolanis sebagai layanan kesehatan.