Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan rantai pasok produk kesehatan esensial di Indonesia dengan menggambarkan strategi end-to-end hingga last-mile, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta merumuskan strategi pencegahan stockout. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan sintesis naratif tematik terhadap artikel empiris dan dokumen kebijakan periode 2020–2025 dari basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, serta platform otoritatif seperti Kemenkes dan WHO. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi hulu (end-to-end) berfokus pada pengadaan publik yang transparan, diversifikasi pemasok, dan kolaborasi regional, sedangkan strategi hilir (last-mile) bertumpu pada penguatan sistem logistik farmasi berbasis data real-time. Komitmen regulasi, transparansi digital, dan adopsi teknologi (seperti blockchain, arsitektur Zero Trust, dan pemodelan cold chain) menjadi faktor pendukung utama. Sebaliknya, tantangan geografis, lemahnya koordinasi pasca-desentralisasi, keterbatasan kompetensi SDM, dan ketidaksesuaian perencanaan kebutuhan obat menjadi penghambat signifikan. Mitigasi risiko stockout di tingkat operasional dilakukan melalui peningkatan akurasi peramalan (forecasting) dan penerapan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) untuk pengiriman ulang proaktif. Kajian ini menyimpulkan bahwa ketahanan rantai pasok kesehatan terbentuk melalui interaksi dinamis antara kapasitas operasional, teknologi, dan tata kelola. Penguatan jangka panjang memerlukan investasi infrastruktur logistik, regulasi berbasis kinerja, dan integrasi sistem informasi untuk mewujudkan rantai pasok yang tangguh dan adaptif.