Keterlambatan diagnosis, kepatuhan pengobatan, dan pencegahan penularan melalui kontak serumah adalah masalah utama tuberkulosis paru-paru yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Metode pelayanan kedokteran keluarga harus digunakan untuk menemukan komponen biopsikososial dan lingkungan yang berkontribusi terhadap keberhasilan pengobatan TB. Kami melaporkan bahwa seorang wanita berusia 38 tahun datang kontrol pengobatan TB paru dan saat ini sedang menjalani terapi fase intensif. Pasien menunda pemeriksaan dokter karena awalnya mengira batuk kronis adalah akibat kelelahan. Pasien mulai menerima perawatan setelah pemeriksaan dahak menunjukkan adanya infeksi TB. Kekhawatiran utama pasien tentang kemungkinan penularan kepada anak-anaknya ditemukan dalam evaluasi menyeluruh. Skrining Mantoux pada anak kedua dan ketiga menunjukkan hasil positif, namun keluarga belum bersedia melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Faktor risiko yang ditemukan meliputi kurangnya pengetahuan tentang TB, kepatuhan penggunaan masker yang belum optimal, keterlambatan pengambilan obat, serta kondisi rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang kurang memadai pada lingkungan padat penduduk. Dilakukan intervensi komprehensif berbasis patient-centered berupa edukasi mengenai kepatuhan pengobatan, pencegahan penularan, penggunaan masker, pentingnya skrining kontak serumah, serta konseling terkait evaluasi lanjutan pada anak dengan hasil Mantoux positif. Pendekatan holistik pada pasien TB paru tidak hanya berfokus pada terapi farmakologis tetapi juga identifikasi faktor personal, keluarga, perilaku, dan lingkungan. Edukasi berkelanjutan serta skrining kontak serumah berperan penting dalam meningkatkan keberhasilan terapi dan mencegah transmisi TB di komunitas.