Masa remaja merupakan periode kritis pertumbuhan yang membutuhkan kecukupan gizi dan pola tidur yang baik. Gangguan kualitas tidur dapat memengaruhi regulasi nafsu makan dan pilihan pangan, sehingga berpotensi berkontribusi pada masalah gizi remaja. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan kualitas tidur dan asupan makan dengan status gizi remaja. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan pada Maret–Mei 2024 di SMA Negeri 1 Stabat, Kabupaten Langkat. Sampel berjumlah 63 siswa kelas X–XI yang dipilih dengan stratified random sampling. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), asupan makan melalui food recall 2×24 jam dan diklasifikasikan normal (80–100% AKG) atau tidak normal (<80% atau >100% AKG), serta status gizi dihitung dari indeks IMT/U. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dan estimasi Prevalence Ratio (PR) dengan CI 95%. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (65,1%) dan berusia 16 tahun (44,4%). Sebanyak 63,5% responden memiliki kualitas tidur buruk, 60,3% memiliki asupan makan tidak normal, dan 54,0% berstatus gizi tidak baik. Kualitas tidur berhubungan signifikan dengan status gizi (p<0,001) dengan prevalensi status gizi baik 3,865 kali lebih tinggi pada remaja dengan kualitas tidur baik dibandingkan kualitas tidur buruk (PR=3,865; 95%CI 2,128–7,018). Asupan makan juga berhubungan dengan status gizi (p=0,014), dengan prevalensi status gizi baik 1,592 kali lebih tinggi pada remaja dengan asupan makan normal dibandingkan tidak normal (PR=1,592; 95%CI 1,156–2,194). Kualitas tidur dan asupan makan berhubungan dengan status gizi remaja. Intervensi gizi remaja perlu mengintegrasikan edukasi higiene tidur dan perbaikan pola makan