Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penggunaan Standard Marine Communication Phrases (SMCP) sebagai standar komunikasi internasional dalam mendukung keselamatan pelayaran dan mencegah terjadinya miskomunikasi di atas kapal. Permasalahan penelitian muncul dari insiden near miss yang terjadi pada saat proses berthing dan anchoring MV. Sao Master di Pelabuhan Lianyungang, China, akibat penggunaan bahasa non-standar dalam komunikasi antara Master dan Pilot. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan SMCP oleh crew MV. Sao Master selama kegiatan navigasi dan operasional kapal serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas penggunaannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi selama praktik laut, wawancara mendalam terhadap Master, Chief Officer, dan Third Officer, serta dokumentasi operasional kapal. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai penerapan SMCP di lingkungan kerja kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SMCP di lingkungan internal MV. Sao Master telah berjalan dengan baik dan konsisten. Hal tersebut didukung oleh penggunaan Bahasa Inggris Maritim sebagai bahasa kerja utama, pelaksanaan toolbox meeting, monthly safety meeting, dan monthly drill yang menggunakan komunikasi berbasis SMCP. Namun demikian, masih ditemukan kendala pada komunikasi eksternal, khususnya saat berinteraksi dengan pilot dan pihak pelabuhan yang tidak selalu menggunakan frasa standar IMO. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan miskomunikasi yang dapat mengganggu keselamatan pelayaran. Oleh karena itu, penerapan SMCP secara disiplin oleh seluruh pihak yang terlibat dalam operasi kapal menjadi faktor penting dalam meningkatkan keselamatan, efektivitas komunikasi, dan kelancaran operasional pelayaran. Kata Kunci: SMCP, komunikasi maritim, keselamatan pelayaran, miskomunikasi, navigasi kapal