Fatchurrohman Fatchurrohman
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mahardika Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Explorasi Strategi Karyawan dalam Menyeimbangkan Kehidupan dan Pekerjaan Melalui Fleksibilitas Waktu dan Pola Kerja Hybrid (Studi Kasus pada PT Langkah Bersama Sejahtera) Emiliana Ring; Fatchurrohman Fatchurrohman; Titis Tatasari
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.3407

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi strategi karyawan PT Langkah Bersama Sejahtera dalam menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi melalui fleksibilitas waktu serta pola kerja hybrid. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melibatkan lima partisipan dari divisi dan tingkat tanggung jawab yang berbeda. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian tematik, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan kerja-kehidupan dibangun melalui enam strategi utama, yaitu penyusunan prioritas harian dan mingguan, penetapan batas waktu kerja, penyediaan ruang kerja khusus, pemanfaatan aplikasi kolaborasi, komunikasi terbuka dengan atasan dan keluarga, serta pemulihan psikologis setelah bekerja. Fleksibilitas waktu dan kombinasi bekerja dari rumah serta kantor membantu karyawan mengurangi waktu perjalanan, menyesuaikan ritme kerja, dan mempertahankan tanggung jawab keluarga. Namun, manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis. Kaburnya batas kerja, budaya selalu terhubung, ketimpangan fasilitas digital, koordinasi lintas divisi, dan kecenderungan memperpanjang jam kerja menjadi risiko yang dapat menurunkan kesejahteraan. Dukungan organisasi berupa kebijakan berbasis hasil, kepemimpinan yang empatik, kesepakatan waktu komunikasi, dan pemerataan sarana kerja terbukti penting untuk mengendalikan risiko tersebut. Penelitian menyimpulkan bahwa pola kerja hybrid yang efektif memerlukan keseimbangan antara otonomi, kejelasan target, kontrol batas kerja, dan dukungan sosial agar produktivitas, kepuasan, loyalitas, serta keberlanjutan organisasi dapat meningkat secara bersamaan.