Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran dan Makna Bahasa Batak Toba dalam Kegiatan Adat Boras Sipir ni Tondi Josua Dio Laurensius Sihombing; Meisya Tesalonika Hutasoit; Gabriel Cornelius Siregar
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.5548

Abstract

Boras Sipir ni Tondi merupakan ritual adat penting masyarakat Batak Toba yang memadukan simbol beras, doa, umpasa, dan tuturan adat untuk menguatkan jiwa atau tondi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran dan makna bahasa Batak Toba dalam pelaksanaan ritual tersebut pada konteks pernikahan, kelahiran anak, dan pemulihan trauma. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi partisipatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan, perekaman tuturan ritual, wawancara mendalam dengan pelaku dan pemangku adat, serta kajian terhadap doa, umpasa, dan literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Batak Toba berfungsi sebagai medium performatif yang tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga melaksanakan tindakan sosial dan spiritual berupa pemberkatan, penguatan, perlindungan, dan pemulihan. Kosakata seperti tondi serta formula ungkapan adat mengandung makna filosofis, emosional, dan kultural yang sulit dipindahkan secara utuh ke dalam bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa asli memperkuat keterlibatan peserta, legitimasi pelaku adat, solidaritas antarkeluarga, dan pengalaman batin penerima ritual. Sebaliknya, penggantian tuturan adat dengan bahasa lain berpotensi mengurangi nuansa simbolis dan kedalaman makna ritual. Penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian Boras Sipir ni Tondi perlu dilakukan bersamaan dengan dokumentasi, pewarisan, dan revitalisasi bahasa Batak Toba, khususnya kepada generasi muda, agar fungsi spiritual, identitas budaya, dan nilai sosial tradisi tetap berkelanjutan. Upaya tersebut juga penting untuk mencegah ritual berubah menjadi formalitas simbolik semata.