Early Sahrotul Jannah
Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Mekanisme Transmisi Inflasi Lumajang: Analisis PAD, PDRB, dan TPT 2015-2024 Early Sahrotul Jannah; Hilda Fitria; Atik Widiawati; Mashudi Mashudi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9161

Abstract

Penelitian ini mengkaji mekanisme transmisi inflasi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, melalui analisis hubungan antara Pendapatan Asli Daerah (PAD), Produk Domestik Regional Bruto atas Dasar Harga Konstan (PDRB ADHK), dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada periode 2015-2024. Rata-rata inflasi Kabupaten Lumajang selama 2020-2024 tercatat sebesar 4,2%, melampaui angka nasional 3,5%, dengan struktur ekonomi yang didominasi sektor pertanian sebesar 45% dari PDRB. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis postpositivisme, dengan data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap lima informan dari Bappeda, Dinas Tenaga Kerja, dan TPID, serta diperkuat data sekunder BPS periode 2015-2024. Analisis mengacu pada model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2020), dengan tingkat keselarasan data wawancara dan empiris mencapai 89-95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi Lumajang tidak sepenuhnya sesuai dengan teori Kurva Phillips konvensional, ditunjukkan oleh korelasi TPT terhadap inflasi yang hanya sebesar -0,15. Pada 2022, gejala stagflasi ringan teramati ketika pengangguran 4,97% dan inflasi 4,24% meningkat bersamaan. Tiga jalur transmisi inflasi yang saling memperkuat berhasil diidentifikasi, yaitu jalur fiskal-permintaan, jalur produktivitas-penawaran, dan jalur ekspektasi-struktural, yang membentuk mekanisme umpan balik endogen sehingga inflasi tetap persisten melalui efek penguatan melampaui dampak masing-masing jalur secara individual. Pengendalian inflasi daerah yang efektif memerlukan sinergi simultan antara optimalisasi penyerapan anggaran, penguatan infrastruktur logistik pertanian, dan pengelolaan ekspektasi publik melalui komunikasi kebijakan yang transparan dan konsisten.