Penelitian ini bertujuan menganalisis peran komunikasi asertif sebagai sarana mengurangi konflik interpersonal pada siswa perantau di lingkungan multikultural SMP Yos Sudarso Metro. Keberagaman latar belakang budaya yang dimiliki siswa menciptakan dinamika interaksi yang kompleks dan berpotensi memunculkan konflik akibat perbedaan bahasa, kebiasaan, serta gaya komunikasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman hidup siswa perantau dalam beradaptasi dan membangun hubungan sosial di lingkungan sekolah. Informan penelitian dipilih secara purposive, yaitu siswa kelas VIII yang berasal dari luar Provinsi Lampung dan memiliki pengalaman berinteraksi dalam lingkungan multikultural. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan Communication Accommodation Theory (CAT) dan model manajemen konflik Thomas-Kilmann sebagai landasan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi asertif berfungsi sebagai jembatan interaksi sosial melalui strategi konvergensi, seperti penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa netral, penyesuaian gaya komunikasi, dan upaya memahami karakter serta budaya teman sebaya. Dalam pengelolaan konflik, siswa menerapkan klarifikasi langsung, verifikasi informasi, kontrol emosi, dan pendekatan kolaboratif untuk mencapai solusi yang konstruktif. Meskipun demikian, penerapan komunikasi asertif masih menghadapi berbagai hambatan, baik internal maupun eksternal, seperti rasa sungkan, rendahnya kepercayaan diri, komunikasi agresif, dan kurangnya empati dari lingkungan sosial. Dukungan sekolah melalui program pembinaan karakter dan keberagaman terbukti membantu pengembangan keterampilan komunikasi asertif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi asertif merupakan strategi penting dalam mendukung adaptasi sosial dan mengurangi konflik interpersonal pada siswa perantau di lingkungan sekolah multikultural.