Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh jumlah wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara terhadap Produk Domestik Bruto sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di Indonesia tahun 2015-2025. Sektor ini penting dalam pengantar bisnis karena memperlihatkan hubungan antara mobilitas wisatawan, permintaan jasa, pendapatan usaha, dan pertumbuhan ekonomi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data sekunder berbentuk time series yang bersumber dari Badan Pusat Statistik dan publikasi pendukung pariwisata. Variabel independen terdiri atas kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara, sedangkan variabel dependen adalah PDB sektor penyediaan akomodasi dan makan minum. Analisis dilakukan melalui penyusunan data, tabel, grafik, perbandingan tren, serta interpretasi hubungan antarvariabel sebelum pandemi, saat pandemi, dan masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara meningkat pada 2015-2019, turun tajam pada 2020-2021 akibat pembatasan perjalanan internasional, kemudian pulih bertahap hingga 2025. Perjalanan wisatawan nusantara juga mengalami tekanan pada 2020, tetapi menunjukkan pemulihan lebih cepat dan menjadi penopang utama permintaan domestik. PDB sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menurun pada 2020, lalu meningkat kembali seiring pulihnya mobilitas wisata dan konsumsi masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara berperan penting dalam mendorong kinerja sektor akomodasi dan makan minum, meskipun pengaruhnya juga dipengaruhi daya beli, inflasi, kebijakan mobilitas, kualitas layanan, pemasaran digital, dan kondisi ekonomi global. Oleh karena itu, penguatan pasar domestik, promosi internasional, inovasi layanan, dan peningkatan kualitas bisnis pariwisata diperlukan agar sektor ini tumbuh berkelanjutan. Strategi tersebut juga dapat memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan pelaku UMKM, memperkuat rantai pasok, dan memperbesar kontribusi pariwisata terhadap ekonomi nasional secara inklusif.