Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Prosedur Pembiayaan untuk Mencegah Non-Performing Loan (NPL) pada Bank Sumut Delvi Lianti; Lestariana Pangaribuan; Maya Sintia Lubis; Naufal Risky; Rizka Aulia; Hilmiatus Sahla
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10679

Abstract

Penelitian dilakukan untuk melihat bagaimana prosedur pembiayaan yang diterapkan Bank Sumut bisa mencegah terjadinya kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL). Bank Sumut sebagai bank pembangunan daerah milik Provinsi Sumatera Utara menjalankan fungsi intermediasi yang salah satunya adalah menyalurkan kredit kepada masyarakat. Dalam proses penyaluran kredit itu, ada risiko yang tidak bisa dihindari yaitu kredit bermasalah atau NPL. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data sekunder dari laporan tahunan Bank Sumut tahun 2020 sampai 2025. Data yang dianalisis mencakup kolektibilitas kredit dan rasio NPL Gross serta NPL Netto selama periode tersebut. Dari data yang ada, NPL Gross Bank Sumut turun terus dari 3,54% di tahun 2020 sampai titik terendahnya 2,19% di tahun 2024. Penurunan ini menunjukkan bahwa prosedur pembiayaan yang diterapkan, terutama analisis 5C yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition of Economy, cukup berhasil menjaga kualitas kredit. Namun di tahun 2025, NPL naik lagi diangka 3,12% karena banyak kredit yang masuk kategori meragukan dan macet, salah satunya dampak dari berakhirnya kebijakan restrukturisasi kredit OJK pasca Covid-19. Walaupun naik, angka ini masih dibawah batas maksimum 5% yang ditetapkan Bank Indonesia, jadi Bank Sumut masih masuk kategori sehat. Kesimpulannya, penerapan prinsip 5C dalam prosedur pembiayaan Bank Sumut terbukti bisa menekan angka NPL, tapi pengawasan setelah kredit cair masih perlu diperkuat supaya risiko bisa dideteksi lebih awal.