Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pemetaan Dimensi Kepribadian Siswa Kelas VII-A SMPN 37 Surabaya sebagai Dasar Layanan BK Anyndyacrhama Pangistri; Aprilia Putri Maulina
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10816

Abstract

Memahami karakteristik kepribadian peserta didik penting bagi upaya merancang layanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang relevan dan responsif terhadap kebutuhan perkembangan. Penelitian ini bertujuan memetakan tipe kepribadian siswa kelas VII A SMP Negeri 37 Surabaya menggunakan Eysenck Personality Inventory (EPI) serta memberikan rekomendasi perancangan layanan BK berdasarkan temuan asesmen. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan 30 siswa sebagai subjek. Instrumen EPI mengukur tiga dimensi utama: Ekstroversi–Introversi, Neurotisisme–Stabilitas Emosi, dan Lie Scale yang berfungsi mendeteksi kecenderungan respons sosial yang mungkin tidak akurat. Analisis data fokus pada distribusi skor pada masing masing dimensi dan implikasinya terhadap kebutuhan layanan di lingkungan sekolah. Hasil menunjukkan 73% peserta didik cenderung berada pada dimensi introversi sedangkan 27% menunjukkan kecenderungan ekstroversi; pada dimensi neurotisisme, 47% tergolong memiliki kecenderungan neurotik dan 53% menunjukkan kestabilan emosi yang relatif baik; sementara pada Lie Scale, 63% peserta didik memperlihatkan kecenderungan respons yang mengarah pada jawaban socially undesirable dan 37% menunjukkan jawaban yang cenderung socially desirable. Gambaran ini menandai profil kelas yang sebagian besar reflektif dan tenang, namun tetap terdapat kelompok yang memerlukan perhatian khusus terhadap regulasi emosi serta kewaspadaan dalam interpretasi data akibat tingginya skor Lie Scale. Dari sisi aplikasi praktis, pemetaan kepribadian ini dianjurkan menjadi dasar penyusunan program BK yang kontekstual, seperti kegiatan bertahap untuk pengembangan keterampilan komunikasi dan partisipasi sosial bagi siswa introvert, intervensi pengelolaan emosi bagi siswa dengan kecenderungan neurotisisme, serta prosedur asesmen lanjutan (mis. wawancara, observasi) untuk memvalidasi respons ketika ditemukan skor Lie Scale tinggi.