Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kecerdasan emosional dan pengalaman kerja terhadap pengelolaan konflik internal pada Kementerian Agama Kabupaten Bone. Pengelolaan konflik internal merupakan salah satu aspek penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif. Populasi penelitian berjumlah 103 pegawai yang terdiri atas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin sehingga diperoleh 82 responden dengan teknik probability sampling melalui metode simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner menggunakan skala Likert, observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Analisis data menggunakan metode Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap pengelolaan konflik internal. Pengalaman kerja juga berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap pengelolaan konflik internal. Secara simultan, kecerdasan emosional dan pengalaman kerja memberikan kontribusi terhadap pengelolaan konflik internal, namun besarnya pengaruh yang dihasilkan masih relatif rendah sehingga menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor lain yang lebih dominan memengaruhi pengelolaan konflik internal, seperti kepemimpinan, budaya organisasi, komunikasi organisasi, dan motivasi kerja. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris dalam pengembangan kajian manajemen sumber daya manusia, khususnya mengenai pengelolaan konflik internal pada instansi pemerintah, serta menjadi masukan bagi Kementerian Agama Kabupaten Bone dalam merumuskan strategi peningkatan kompetensi pegawai guna menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, produktif, dan berorientasi pada pelayanan publik.