Perubahan gaya hidup dinamis meningkatkan permintaan masyarakat akan produk pangan instan, tetapi ketersediaan produk instan bergizi masih terbatas. Oleh karena itu, sayuran instan dikembangkan sebagai alternatif pangan instan yang lebih sehat sekaligus untuk memperpanjang umur simpan sayuran segar tanpa memengaruhi kualitas nutrisionalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh metode pengeringan (freeze-drying/FD dan tray-dehydrating/TD), jenis sampel (wortel, jagung muda, dan jamur kancing), serta interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap kualitas produk sayuran instan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar air dan aktivitas air (kualitas pasar), laju rehidrasi dan water holding capacity (kualitas masak), serta warna, tekstur, dan tingkat penerimaan konsumen (kualitas makan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengeringan dan jenis sampel berpengaruh nyata terhadap kualitas pangan pada setiap parameter, serta terdapat interaksi antara kedua faktor. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan metode FD memiliki laju rehidrasi dan nilai WHC yang tinggi, warna yang mendekati kondisi segar, serta tekstur setelah rehidrasi yang baik. Sementara itu, metode TD menghasilkan kadar air dan aktivitas air yang rendah, tetapi menyebabkan perubahan warna dan pengerasan tekstur yang lebih besar akibat kerusakan struktur jaringan selama proses pengeringan. Interaksi antara metode pengeringan dan jenis sampel mengindikasikan bahwa setiap jenis sayuran memberikan respons yang berbeda terhadap metode pengeringan yang digunakan, sehingga pemilihan metode pengeringan perlu mempertimbangkan sifat bahan serta karakteristik mutu yang ingin dicapai.