Muhammad Yusuf Ritonga
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sistem Kekerabatan dan Peranannya dalam Struktur Sosial Masyarakat Mandailing Mukhlis Lubis; Ali Padang Siregar; Muhammad Yusuf Ritonga; Andi Saputra Mandopa
Advances In Education Journal Vol. 2 No. 6 (2026): Advances In Education Journal (Juni)
Publisher : Yayasan Al-Afif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji sistem kekerabatan Dalihan Natolu dan peranannya dalam struktur sosial masyarakat Mandailing dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi. Dalihan Natolu—falsafah hidup masyarakat Mandailing yang terdiri atas tiga unsur: Mora (pemberi istri), Kahanggi (saudara semarga), dan Anak Boru (penerima istri)—menjadi dasar pengaturan relasi sosial, etika, dan kewajiban antar kelompok kekerabatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai filosofis Dalihan Natolu, menganalisis fungsinya dalam pengambilan keputusan adat, penyelesaian sengketa, serta pelaksanaan upacara daur hidup, dan menilai relevansinya dalam kehidupan masyarakat Mandailing masa kini. Penelitian dilakukan di Kabupaten Mandailing Natal dengan melibatkan Namora Natoras, tokoh agama, dan generasi muda sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dalihan Natolu tidak sekadar menjadi struktur kekerabatan, tetapi juga pranata sosial yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat. Peran utamanya tampak dalam mekanisme musyawarah adat (martahi/marpokat), mediasi sengketa terutama terkait kewarisan, pelaksanaan upacara kelahiran, perkawinan, dan kematian, serta pembinaan harmoni sosial dan nilai keagamaan. Prinsip somba marhula-hula, elek marboru, dan manat mardongan tubu menjadi landasan etika sosial yang terus hidup, baik di kampung halaman maupun di perantauan. Penelitian menyimpulkan bahwa Dalihan Natolu merupakan kearifan lokal yang tetap relevan dalam menjaga kohesi sosial masyarakat Mandailing di tengah perubahan sosial modern.