Bahri Rizki Saeful
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Aktor dan Tata Kelola Berbasis Komunitas bersama Lebah Banten di Pantai Gope (Karangantu) Pesisir Banten Bahri Rizki Saeful; Putri Reisyah Hafizh Amalia Andriani; Pratama Muhammad Daffa; Akbar Muhammad Adjie; Sita Alya Rahmah
Management and Education Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : Lembaga Institute Development of Social Economic Cociety

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67538/mej.v4i2.79

Abstract

ABSTRAK Studi ini mengkaji politik lingkungan dalam praktik rehabilitasi dan penanaman mangrove oleh Komunitas Lebah Banten di Pantai Gope (Karangantu), Kota Serang, pada 31 Mei 2026, menggunakan kerangka ekologi politik. Penelitian kualitatif berbasis studi kasus ini melakukan observasi partisipatif dan wawancara semi-terstruktur. Temuan menunjukkan tiga dimensi utama: pertama, Lebah Banten berperan sebagai aktor tata kelola ekosistem yang mengisi kekosongan negara setelah kegagalan program rehabilitasi mangrove nasional (BRGM hanya mencapai 21,6% dari target 600.000 ha). Kedua, struktur keanggotaan yang inklusif—mencakup berbagai kelompok usia dan wilayah—menunjukkan modal sosial kuat yang menopang tata kelola komunitas. Ketiga, pengetahuan teknis dan ekologis yang diwariskan lintas generasi (mis. teknik polybag, analisis gelombang, perlindungan bibit dari kepiting) berfungsi sebagai kearifan lokal yang menantang narasi rehabilitasi top-down negara. Penanaman 900 bibit pada 31 Mei 2026 dan partisipasi spontan warga menegaskan bahwa lokasi ini merupakan arena kontestasi politik lingkungan yang dinamis, bukan sekadar upacara reboisasi. Studi ini menyoroti pentingnya peran komunitas lokal dan pengetahuan tradisional dalam strategi rehabilitasi pesisir. ABSTRACT This study examines environmental politics in mangrove rehabilitation and planting carried out by the Lebah Banten Community at Pantai Gope (Karangantu), Serang City, on 31 May 2026, using a political ecology framework. This qualitative case study employed participatory observation and semi-structured interviews. Findings reveal three main dimensions: first, Lebah Banten acts as an ecosystem governance actor filling the governance gap left by the state after the national mangrove rehabilitation program failed to meet its target (BRGM reached only 21.6% of the 600,000-ha goal). Second, an inclusive membership structure—spanning ages and regions—demonstrates strong social capital underpinning community governance. Third, intergenerational technical and ecological knowledge (e.g., polybag techniques, wave analysis, protecting seedlings from crabs) functions as local wisdom that challenges the state’s top-down rehabilitation narrative. Planting 900 mangrove seedlings on 31 May 2026, together with spontaneous participation by residents, confirms that this rehabilitation site is a dynamic arena of environmental contestation rather than merely a ceremonial reforestation effort. The study highlights the crucial role of local communities and traditional knowledge in coastal rehabilitation strategies.