ABSTRAK Munculnya wisata kesehatan menggeser pariwisata dari sekadar rekreasi menjadi pengalaman yang mendukung kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, tetapi seringkali dikaitkan dengan layanan berbiaya tinggi. Studi ini menganalisis Wisdom Park di Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai model wisata kesehatan berbiaya rendah yang memberikan kesejahteraan melalui ruang hijau perkotaan yang inklusif dan mudah diakses. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen, dan menganalisisnya dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Lensa teoretis meliputi konstruksi sosial realitas Berger dan Luckmann, pandangan turis Urry, modal sosial Bourdieu, solidaritas sosial Durkheim, ditambah ekonomi kesehatan, pariwisata berbasis alam, dan perspektif pariwisata regeneratif. Temuan menunjukkan Wisdom Park beroperasi sebagai ruang publik yang mendukung kesehatan fisik, mental, dan sosial melalui interaksi dengan alam dan aktivitas kolektif; citranya sebagai tempat penyembuhan dan relaksasi dibangun secara sosial dan diperkuat oleh pengalaman pengunjung dan media sosial. Di luar manfaat individu, taman ini memperkuat modal sosial, solidaritas sosial, dan kualitas lingkungan perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman kesehatan dapat diwujudkan dengan mengoptimalkan ruang hijau publik yang terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, Wisdom Park UGM berpotensi sebagai model wisata kesehatan berbiaya rendah yang mendukung kesehatan masyarakat dan pembangunan perkotaan berkelanjutan. ABSTRACT The rise of health tourism shifts tourism from mere recreation to experiences that support physical, mental, and social wellbeing, but it is often linked to high-cost services. This study analyzes Wisdom Park at Gadjah Mada University (UGM) as a low-cost health-tourism model delivering wellbeing through inclusive, accessible urban green space. Using a descriptive qualitative approach, the research collected data via observation, in-depth interviews, and document study, and analyzed it with the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model. Theoretical lenses include Berger and Luckmann’s social construction of reality, Urry’s tourist gaze, Bourdieu’s social capital, Durkheim’s social solidarity, plus health economics, nature-based tourism, and regenerative tourism perspectives. Findings show Wisdom Park operates as a public space that supports physical, mental, and social health through interaction with nature and collective activities; its image as a healing and relaxation site is socially constructed and reinforced by visitor experiences and social media. Beyond individual benefits, the park strengthens social capital, social solidarity, and urban environmental quality. The results indicate that health experiences can be realized by optimizing affordable, inclusive, and sustainable public green spaces. Wisdom Park UGM thus has potential as a low-cost health-tourism model that supports public health and sustainable urban development.