Histologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari struktur jaringan dan sel pada tingkat mikroskopis, yang beperan penting dalam memahami hubungan antara bentuk dan fungsi. Keakuratan pengamatan histologis bergantung pada teknik fiksasi dan pewarnaan yang digunakan. Diff-Quick dikenal sebagai metode pewarnaan yang cepat dan praktis, namun kualitas hasilnya dipengaruhi oleh kondisi fiksasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu fiksasi 4 derajat celcius, 25 derajat celcius, dan 45 derajat celcius selama 24 jam menggunakan Neutral Buffered Formalin 10 persen terhadap kualitas pewarnaan jaringan usus mencit. Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental kuantitatif menggunakan 42 sampel jaringan usus mencit yang difiksasi pada tiga kelompok suhu. Kualitas pewarnaan dinilai berdasarkan kejelasan nukleus, detail sitoplasma, intesitas warna, serta artefak. Hasil penelitian menunjukan bahwa fiksasi pada suhu 4 derajat celcius menghasilkan kualitas terbaik dengan kontras nukleus dan sitoplasma yang tajam serta morfologi jaringan terpelihara (rata-rata skor 15,5; kategori sangat baik). Suhu 25 derajat celcius memberikan kualitas baik (rata-rata skor 12,36), sedangkan suhu 45 derajat celcius memberikan kualitas buruk akibat lisis sel dan pewarnaan tidak merata (rata-rata skor 6,2). Analisis statistik menunjukan adanya perbedaan signifikan antar kelompok. Temuan ini menegaskan bahwa hasil penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah berupa rekomendasi bagi laboratorium patologi anatomi bahwa fiksasi pada suhu 4°C berpotensi meningkatkan kualitas sediaan histologi cepat dengan teknik pewarnaan Diff-Quick melalui pemeliharaan detail morfologi dan pengurangan artefak. Meskipun demikian, fiksasi pada suhu 25°C tetap merupakan standar yang memberikan hasil diagnostik yang akurat dan dapat digunakan secara rutin di laboratorium.