Hotnida Siregar
Universitas Islam Negeri Syehk Ali Hasan Ahmad Addary,Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menerapkan Penilaian Autentik pada Kurikulum Merdeka Siti Juraidah Hasibuan; Rahmad Husain Lubis; Hotnida Siregar; Muhammad Darwis Dasopang; Irwandi Sihombing
An-naba : Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Volume 1, Nomor 3, Tahun 2026
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/q1a5a637

Abstract

Penerapan Kurikulum Merdeka sejak tahun 2022 menjadi upaya transformasi pendidikan Indonesia menuju pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, fleksibel, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21. Salah satu komponen penting dalam kurikulum ini adalah asesmen autentik yang berfungsi menilai kemampuan peserta didik secara menyeluruh pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor melalui tugas-tugas yang relevan dengan kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi asesmen autentik dalam Kurikulum Merdeka pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), mengidentifikasi tantangan yang dihadapi guru, serta mengkaji strategi yang digunakan untuk mengoptimalkan pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan menganalisis berbagai artikel ilmiah, jurnal nasional dan internasional, serta dokumen yang relevan dengan topik penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru PAI menerapkan berbagai strategi asesmen autentik, seperti penilaian portofolio, proyek, unjuk kerja, observasi sikap, penilaian diri, dan penilaian teman sebaya yang didukung oleh pemanfaatan teknologi digital. Strategi tersebut terbukti mampu meningkatkan keterlibatan, motivasi, kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, komunikasi, serta hasil belajar peserta didik. Namun, implementasi asesmen autentik masih menghadapi berbagai kendala, antara lain keterbatasan kompetensi guru, kurangnya instrumen dan rubrik penilaian, beban administrasi yang tinggi, keterbatasan waktu dan fasilitas, serta kesenjangan kemampuan teknologi. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan berkelanjutan, penguatan literasi asesmen, penyediaan instrumen yang kontekstual, serta dukungan kebijakan dan infrastruktur yang memadai. Dengan demikian, asesmen autentik memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mendukung pencapaian tujuan Kurikulum Merdeka secara efektif.