Niufti Ayu Dewi Mahil
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERAN VIRTUAL AUTOPSY DALAM PENGUNGKAPAN KASUS KEMATIAN TIDAK WAJAR - ASPEK HUKUM & KEDOKTERAN Triyana Indah Purwati; Niufti Ayu Dewi Mahil
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 7 No 2 (2026): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2026.7.2.22145

Abstract

Latar Belakang: Kematian tidak wajar seringkali memerlukan investigasi mendalam untuk kepentingan hukum dan medis. Metode autopsi konvensional, meskipun masih menjadi standar emas, menghadapi berbagai tantangan meliputi risiko infeksi bagi operator, penolakan keluarga berbasis budaya atau agama, serta keterbatasan dokumentasi yang bersifat destruktif dan tidak dapat diulang. Virtual autopsy atau virtopsy, yang memanfaatkan modalitas pencitraan canggih seperti PMCT, MRI, dan PMCTA, telah berkembang sebagai pendekatan non-invasif yang menjanjikan dalam investigasi kematian forensik. Tujuan: Tinjauan literatur ini bertujuan mengkaji peran virtual autopsy dalam pengungkapan kasus kematian tidak wajar dari perspektif hukum dan kedokteran forensik, serta mengidentifikasi keunggulan, keterbatasan, dan implikasinya. Metode: Metode yang digunakan adalah narrative literature review terhadap sepuluh artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2018 hingga 2025. Hasil: Virtual autopsy unggul dalam mendeteksi fraktur, benda asing, emboli gas, dan cedera vaskular, serta menghasilkan dokumentasi digital permanen yang bernilai sebagai barang bukti di persidangan. Teknik ini terbukti efektif pada kasus trauma, tenggelam, luka tembak, kebakaran, dan kematian mendadak. PMCT angiography memberikan nilai tambah dalam visualisasi lesi vaskular dan deteksi emboli paru. Namun demikian, virtual autopsy memiliki keterbatasan dalam evaluasi histopatologi, perubahan jaringan lunak, identifikasi trombosis intravaskular, serta deteksi keracunan sistemik. Secara hukum, keabsahan temuan virtual autopsy sebagai alat bukti masih bervariasi di berbagai yurisdiksi dan belum sepenuhnya terstandarisasi secara internasional. Kesimpulan: Virtual autopsy merupakan instrumen komplementer yang signifikan dalam investigasi kematian tidak wajar, mampu memperkuat temuan autopsi konvensional sekaligus memberikan alternatif pada situasi di mana autopsi tradisional tidak dapat dilaksanakan.