Halusinasi pendengaran merupakan gejala yang seringkali sulit ditangani dalam pelayanan kesehatan jiwa, terutama pada pasien skizofrenia, yang dapat menyebabkan distress signifikan dan gangguan fungsi sehari-hari. Halusinasi pendengaran dapat menimbulkan hilangnya kemampuan mengontrol diri yang mengakibatkan pasien mudah panik, histeris, lemah dan lainnya. Pendekatan terapi terkini semakin mengakui pentingnya integrasi intervensi spiritual dan psikologis. Penanganan gangguan halusinasi pendengaran pada pasien untuk meminimalkan dampak dari halusinasi pendengaran dapat diatasi dengan terapi farmakologi, electro convulsive therapy (ECT) dan non farmakologi. Terapi spiritual yang dapat diberikan pada pasien gangguan halusinasi pendengaran yaitu terapi mindfulness dan terapi dzikir. Penelitian ini mengkaji efektivitas kombinasi terapi mindfulness dan dzikir dalam penanganan halusinasi pendengaran. Menggunakan desain pra-eksperimen one group pretest-posttest, penelitian melibatkan 17 partisipan yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu termasuk afiliasi agama dan tingkat kooperatif. Dampak intervensi diukur menggunakan skala RUFA (Rating Scale for Auditory Hallucinations) dengan penilaian dilakukan sebelum dan setelah pemberian terapi. Hasil penelitian menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan, dimana sebagian besar partisipan mengalami penurunan intensitas halusinasi pasca intervensi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendekatan terapi kombinasi ini dapat menjadi pilihan terapi komplementer yang efektif dan sensitif secara budaya untuk halusinasi pendengaran pada populasi Muslim. Penelitian ini memperkaya bukti ilmiah yang mendukung intervensi kesehatan jiwa integratif yang memperhatikan aspek psikologis dan spiritual sekaligus.