Muhammad Adli Dary Hanif
Manajemen Bisnis Syariah, STEBIS Indo Global Mandiri, Palembang, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Kinerja Keuangan Dan Risiko Kebangkrutan Menggunakan Metode Rasio Keuangan, Dan Altman Z-Score Pada PT MD Entertainment Tbk Periode 2024–2026 Muhammad Adli Dary Hanif
Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen dan Akuntansi Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen dan Akuntansi
Publisher : CV. Picmotiv

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61930/jebmak.v5i2.1847

Abstract

PT MD Entertainment Tbk (FILM) merupakan salah satu perusahaan rumah produksi terbesar sekaligus pemain utama dalam industri perfilman Indonesia. Salah satunya dengan mencatatkan sejarah penting di industri perfilman Indonesia dengan menjadi perusahaan perfilman pertama yang resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2018. Namun sejak harga saham perusahaan mencapai titik tertingginya pada akhir tahun 2025, harga saham PT MD Entertainment Tbk terus menunjukkan tren penurunan yang sangat signifikan hingga mencapai level Rp1.620 perlembar saham-nya pada 9 Juli 2026. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemegang saham serta pemangku kepentingan lainnya terhadap prospek serta kondisi keuangan perusahaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laporan keuangan PT MD Entertainment Tbk guna menilai kondisi keuangan perusahaan serta mengidentifikasi potensi terjadinya financial distress. Analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansialnya serta menjadi dasar dalam menilai tingkat kesehatan keuangan perusahaan secara menyeluruh. Hasil analisis menyimpulkan bahwasannya untuk saat ini perusahaan masih berada pada kondisi aman dari tekanan keuangan atau risiko kebangkrutan. Namun hal tersebut bukan disebabkan oleh performa operasional perusahaan yang mengalami perbaikan, melainkan dikarenakan adanya suntikan tambahan modal pada tahun 2025.