Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Studi Life Cycle Assessment (LCA) Pengaruh Variasi Persentase Biomassa dalam Skema Co-Firing pada PLTU Pelabuhan Ratu terhadap Dampak Lingkungan dan Emisi CO2 Syafrudin; Wawan Aries Widodo
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 7 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i7.6188

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara masih mendominasi penyediaan listrik nasional sekaligus menjadi penyumbang utama emisi gas rumah kaca. Co-firing biomassa merupakan strategi transisi energi rendah karbon yang dapat diterapkan pada PLTU eksisting tanpa modifikasi besar. Penelitian ini mengevaluasi dampak lingkungan dan emisi CO2 dari variasi persentase co-firing sawdust pada PLTU Pelabuhan Ratu (3×350 MW) menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan batas sistem cradle-to-grave dan satuan fungsional 1 kWh listrik. Lima skenario dianalisis: baseline 100% batubara (S0) dan co-firing sawdust 5%, 10%, 15%, dan 20% berbasis energi (S1–S4). Pemodelan dilakukan dengan perangkat lunak openLCA 2.6.1 dan metode ReCiPe 2016 Midpoint (H) pada empat kategori dampak: Global Warming Potential (GWP100), Terrestrial Acidification, Particulate Matter Formation, dan Ozone Formation, dilengkapi indikator Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Hasil menunjukkan seluruh kategori dampak menurun konsisten seiring naiknya persentase co-firing. Pada substitusi 20% (S4), GWP100 menurun 19,6% (dari 0,5983 menjadi 0,4809 kg CO2-eq/kWh), Terrestrial Acidification 41,0%, Particulate Matter Formation 37,1%, dan Ozone Formation 18,9% dibandingkan baseline. Tahap hulu batubara (cradle) menjadi hotspot dominan GWP100 (~74%). Seluruh skenario berada di bawah cap PTBAE-PU (1,011 ton CO2e/MWh) sehingga menghasilkan surplus karbon, dengan potensi pendapatan meningkat dari Rp12.381/MWh (S0) menjadi Rp15.902/MWh (S4). Co-firing sawdust hingga 20% terbukti layak secara lingkungan dan ekonomi sebagai strategi dekarbonisasi PLTU eksisting.