Akselerasi teknologi dan globalisasi telah mengubah dinamika pasar kerja secara fundamental, menuntut institusi pendidikan mentransformasi kurikulum agar relevan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. Di Indonesia, kesenjangan keterampilan antara output pendidikan dengan ekspektasi kompetensi industri semakin nyata, tercermin dari tingginya pengangguran lulusan. Ketidakselarasan ini terutama disebabkan oleh dominasi konten teoretis dan minimnya keterlibatan industri dalam perumusan kurikulum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur sistematis dan analisis dokumen kebijakan terhadap lebih dari delapan puluh karya ilmiah (2019–2026) tentang program link and match, teaching factory, Kurikulum Merdeka, dan kolaborasi Triple Helix pada pendidikan vokasi (SMK). Temuan mengungkapkan defisiensi struktural yang mendalam: orientasi teoretis berlebihan, minimnya partisipasi industri dalam co-design kurikulum, implementasi teaching factory yang tidak merata dan terfragmentasi, serta adaptasi Kurikulum Merdeka yang belum memadai terhadap kebutuhan industri regional. Defisiensi ini berkontribusi langsung pada tingginya pengangguran lulusan vokasi dan melemahnya daya saing ekonomi nasional. Penelitian menyimpulkan bahwa revitalisasi memerlukan pergeseran paradigma dari supply-driven menjadi demand-driven curriculum development melalui penguatan kolaborasi Triple Helix yang terlembagakan. Rekomendasi utama mencakup kewajiban partisipasi substantif industri dalam pengembangan kurikulum, perluasan teaching factory autentik dengan investasi bersama, penyelarasan Kurikulum Merdeka dengan klaster industri regional, serta pengembangan sistem sertifikasi kompetensi bersama.