Para Badminton Nasional merupakan entitas elit dunia yang mensyaratkan kesiapan mental tingkat tinggi. Namun, belum terdapat data empiris mengenai struktur motivasi spesifik pada populasi atlet difabel ini. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan profil dan tingkat Orientasi Tujuan Prestasi (Achievement Goal Orientation) pada atlet Para Badminton Nasional sebagai basis ilmiah program pembinaan prestasi di National Paralympic Committee Indonesia (NPCI). Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan survei deskriptif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh atlet Para Badminton Nasional di Pelatnas NPC Indonesia berjumlah 18 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling (sampling jenuh). Instrumen penelitian menggunakan Task and Ego Orientation in Sport Questionnaire (TEOSQ) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan dinyatakan valid melalui validasi pakar (Content Validity Index/CVI = 1.00) serta memiliki reliabilitas empiris yang sangat tinggi (α = 0.896). Analisis data dilakukan melalui kategorisasi Penilaian Acuan Norma (PAN) dengan teknik Mean Split untuk menentukan tingkat orientasi, yang kemudian diintegrasikan ke dalam Matriks Kombinasi 2x2 untuk mengidentifikasi tipologi motivasi atlet. Temuan menunjukkan dominasi signifikan pada dimensi Task Orientation sebesar 55.56% (Kategori Tinggi), yang mencerminkan mentalitas pembelajar yang solid. Pada dimensi Ego Orientation, distribusi menunjukkan keseimbangan sempurna (50:50) antara kategori tinggi dan rendah. Melalui pemetaan matriks kombinasi, ditemukan bahwa Profil B (Mastery Oriented - High Task/Low Ego) sebagai tipologi paling dominan (33.3%). Namun, ditemukan temuan krusial pada Profil C (Performance Oriented - Low Task/High Ego) sebesar 27.8% yang menunjukkan adanya kelompok atlet dengan orientasi juara tinggi namun memiliki fokus pada proses yang masih rendah. Secara kolektif, atlet Para Badminton Nasional memiliki profil motivasi yang “Adaptif-Progresif”. Orientasi tugas yang kuat berfungsi sebagai buffer (pelindung) resiliensi saat menghadapi kegagalan. Implikasi praktis dari penelitian ini menekankan pentingnya intervensi psikologis bagi atlet di Profil C untuk memperkuat orientasi tugas mereka. Hal ini bertujuan agar orientasi kemenangan memiliki landasan teknis yang kuat, sehingga fluktuasi performa atau hambatan fisik tidak mendestabilisasi kondisi psikologis atlet secara signifikan.