Fiki Khoirul Mala
Walisongo State Islamic University

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Text And Context Regarding Muslim Women’s Tradition In Postcolonial Era In Indonesia Fiki Khoirul Mala; Dany Buyung Yudha Presetya
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 24 No. 2 (2025): Vol. 24 No. 2 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2025.242.91-107

Abstract

Artikel ini mengkaji bagaimana perempuan muslim ditafsirkan melalui teks di Indonesia pasca-kolonial. Menggunakan Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk dan Norman Fairclough, penelitian ini menganalisis buku Tanqīḥ al-Qaul al-Hathīth fī Sharḥ Lubāb al-Hadīth karya Nawawi al-Bantani sebagai lintasan interpretatif penting yang membentuk pemikiran Islam pertengahan abad ke-19 di Indonesia. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa pernikahan pada abad ke-19 merupakan bagian dari langkah untuk mengembalikan motivasi dan semangat setelah kolonialisme di Indonesia. Penggunaan hadits lemah dalam buku Tanqīḥ al-Qaul al-Hathīth fī Sharḥ Lubāb al-Hadīth membuktikan bahwa Nawawi al-Bantani memperhatikan nilai-nilai sosial dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Revisualisasi feminisme pascakolonialisme dengan menghadirkan perspektif pernikahan dalam situasi transisi kolonial memberikan gaya interpretatif baru termasuk pengembangan nilai-nilai humanis bangsa Indonesia.   Kata kunci: Interpretasi, Hadis, Indonesia, Nawawi al-Bantani, Pernikahan, Dekolonisas   [This article examines how muslim women was interpreted trough the text in post-colonial Indonesia. Using Critical Discourse Analysis of Teun A. Van Dijk and Norman Fairclough, this study analyzes the book Tanqīḥ al-Qaul al-Hathīth fī Sharḥ Lubāb al-Hadīth by Nawawi al-Bantani as an important interpretive trajectory that shaped mid-19th-century Islamic thought in Indonesia. The findings of this study reveal that marriage in the 19th century was part of the step to restore the motivation and spirit aftere colonialism in Indonesia. The use of weak hadiths in the book Tanqīḥ al-Qaul al-Hathīth fī Sharḥ Lubāb al-Hadīth proves that Nawawi al-Bantani paid attention to the social values and needs of the Indonesian people. The revisualization of postcolonialism feminism by presenting the perspective of marriage in a colonial transition situation provides a new interpretive style including the development of humanist values of the Indonesian nation. Keywords:  Interpretation, Hadith, Indonesia, Nawawi al-Bantan, Marriage, Decolonization]