I Ketut Sariada
Institut Seni Indonesia Bali

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TARI LEGONG TINUT Ni Made Ayu Kesuma Dewi; I Ketut Sariada; Ida Ayu Wayan Arya Satyani
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 2 (2025): Jurnal IGEL: Journal Of Dance VOL.5 NO.2, Oktober 2025
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i2.6073

Abstract

Abstrak Tari Legong Tinut merupakan tari kreasi palegongan yang dikembangkan dari gerak tari legong dan kisah mitos awal mula Pura Peti Tenget, di Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Pemilihan mitos sebagai sumber kreatif mengantarkan proses kreatifnya pada kebaruan lakon dan kebaruan gerak yang terinspirasi dari tokoh dalam mitos serta jejak artefak yang ada di Pura Petitenget. Penciptaan Tari Legong Tinut mengacu pada rumusan masalah penciptaan: 1) bagaimana proses kreatif penciptaannya, 2) bagaimana wujud karyanya, 3) apa pesan yang disampaikan. Tujuan penciptaanya untuk memperkenalkan dan melestarikan mitos dalam bentuk karya seni tari kreasi palegongan dan mengayakan khasanah penciptaan tari legong kreasi di Bali. Metode penciptaan yang digunakan adalah angripta sasolahan dikemukakan oleh I Kt Suteja. Tahapannya meliputi ngerencana (merancang), nuasen (ritual awal), makalin (pemilahan gerak dan improvisasi), nelesin (merapikan), dan ngebah (pementasan perdana). Tema karya mengangkat kesetiaan dan ketaatan Bhuto Ijo terhadap janji tugasnya untuk menjaga peti pacanangan Dang Hyang Dwijendra. Tari ini dibawakan oleh tujuh orang penari putri dengan iringan tari gamelan semar pagulingan saih pitu. Karya berdurasi 13 menit dengan struktur: pangawit (penokohan Dang Hyang Dwijendra di tengah hutan), batel maya (penyerahan peti pecanangan), papeson (menggambarkan perawakan Bhuto Ijo, terinspirasi dari sikap togog Bhuto Ijo di Pura Petitenget), pangawak (menonjolkan keagungan Bhuto Ijo), pangecet (menggambarakan gerak-gerik kewaspadaan dan kedatangan masyarakat) dan pakaad (menggambarkan grubug yang disebabkan oleh kekuatan Bhuto Ijo dan pesan Dang Hyang Dwijendra untuk masyarakat Desa Adat Kerobokan). Terciptanya Tari Legong Tinut diharapkan kearifan lokal dan kesakralan lingkungan Pura Petitenget dapat terjaga dari generasi ke generasi. Kata Kunci: Legong Tinut, Kesetiaan, Bhuto Ijo
Tari Terbang Bandung Sebagai Representasi Multikulturalisme Masyarakat Pasuruan Deta Cahya Ramadhani; I Wayan Suardana; I Ketut Sariada
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 6 No 2 (2026): Jurnal IGEL: Journal Of Dance
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/00f90614

Abstract

Pasuruan merupakan kota pesisir yang memiliki sejarah perdagangan dan dakwah islam yang kuat. Hasil dari sebuah akulturasi budaya yang memberikan kekayaan kebudayaan yang termanisfestasi dalam seni tradisionalnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan Kesenian Tebang Bandung sebagai bukti proses Multikulturalisme di Pasuruan Jawa Timur. Kesenian rakyat ini dipilih karena terjadinya sintetis unik dari berbagai tradisi. Metode penelitian ini menggunakan kulaitatif deskriptif melalui studi literatur dan analiasi struktural kesenian, dengan fokus pada unsur musik, gerak dan narasi/ dakwah dalam pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kesenian Tebang Bandung merupakan produk akulturasi antara Budaya Islam/Melayu dan Budaya Jawa Timur. Unsur Islam terlihat pada penggunaan alat musik terbang/rebana sebagai iringan utama dan fungsi awal sebagai media dakwah, kemudian unsur Jawa lokal terwujud melalui pergeseran fungsi yang menyerupai ludruk. Proses akulturasi dua budaya ini menghasilkan seni yang baru, berfungsi ganda sebagai hiburan dan edukasi, serta jembatan sosial bagi masyarakat Pasuruan yang heterogen. Kesenian Terbang Bandung tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai cerminan hidup tentang harmoni sosial dan pengakuan terhadap keragaman budaya di pasuruan. Kata kunci : Multikulturalisme; Kesenian Terbang Bandung; Seni Pertunjukan Jawa Timur; Pasuruan